Phnom Penh, Cambodia

Standard

Alooo temen temen travellers, kali ini aku ngin berbagi pengalaman jalan2 ke Cambodia atau dikenal di negara kita dengan sebutan Kamboja, yang ibukota nya akan aku jelajahi yaitu Phnom Penh.
Tanpa ada rencana sebelumnya dan persiapan hanya berbekal dari apa yang aku baca di internet, maka aku memutuskan untuk pergi ke sini. Yuk ikutin perjalanan aku kali ini

Berhubung alasan pergi dengan tiket murah, maka aku berangkat dengan Tiger Air, dari Bandung dan transit di Singapore.

Selasa, 27 Mei 2014
Alarm aku bunyi tepat pukul 05.00, segera bergegas mandi karena hari ini aku memulai petualangan menuju sebuah negara yang benar benar baru pertama kali aku kunjungi, dan yang pasti ada perasaan excited dan sedikit bingung. Setelah berkemas dan memastikan semua tidak ada yang ketinggalan, aku berangkat ke Stasiun Gambir, karena harus ke Bandung dulu dengan kereta api jam 07.25. Sudah terbayang di awal, aku bakal meneruskan tidur di kereta selama 3 jam. Dan kenyataan nya benar, saat aku terbangun kereta Argo Parahyangan yang aku tumpangi sudah hampir sampai di Stasiun Bandung. Aku melirik ke jam tangan,10.40 ketika kereta berhenti, syukurlah tidak molor, keluar dari stasiun aku mencari taxi untuk tujuan Bandara Husein Satranegara. Masih banyak waktu karena pesawat transit ke Singapore pukul 13.15
Sampai di bandara aku melakukan check in dan langsung melewati imigrasi dan menyempatkan makan siang sambil menunggu waktu boarding.
Tak terasa pengumuman boarding ke Singapore sudah terdengar, saat nya matiin semua gadget dan lanjut tidur lagi hehe…

…..karena hanya transit dan Singapore sudah sering dikunjungi temen2 traveler jadi nggak aku ceritain lagi, tapi kalau ada waktu baca tulisan aku yang judulnya “Backpacker”

Rabu, 28 Mei 2014
Bangun rada siang karena ngumpulin tenaga extra buat perjalanan hari ini, setelah menyantap makan siang di QQ Noodle di Bugis area segera aku naik MRT ke Changi Airport.
Boarding dari Singapore ke Phnom Penh sekitar pukul 13.00, perjalanan selama di pesawat hanya sekitar 1,5 jam.
image

Pengumuman dari awak pesawat Tiger Air terdengar, aku akan segera landing di Bandara International Phnom Penh. Begitu mendarat aku segera keluar dari pesawat dan yang aku rasakan pertama adalah cuaca yang sangat panas. Keluar dari bandara yang tidak terlalu besar, sudah berjajar counter2 yang menawarkan simcard telepon, oiya pilih Smart aja, karena signal selama di Kamboja cukup bagus. Segera setelah urusan simcard selesai, aku menukar sebagian dollar yang pecahan kecil dan langsung mencari taxi counter. Tarif taxi dari bandara ke kota pukul rata sama $12. Perjalanan sekitar 40 menit, aku sampai di hotel dimana aku tinggal selama dua malam, letaknya cukup di kota dan kawasan nya rame namanya Queen Grand Boutique Hotel.
image

Setelah melakukan check in dan taruh barang di kamar, segera aku turun kembali untuk mencari informasi dengan meminta brosur kepada receptionist. Dengan berbekal dari informasi internet dan aku cocokin dengan pembicaraan disana, ternyata tidak berbeda jauh. Dan tidak terlalu sulit untuk mengunjungi tempat wisata di Phnom Penh, tetapi berhubung waktu ku terbatas maka city tour yang aku pilih untuk besok seharian.
Sore ini aku manfaatkan untuk berkeliling seputar hotel dengan berjalan kaki, sambil melihat aktifitas warga Phnom Penh, ternyata hanya beberapa meter aku berjalan keluar terlihat sebuah taman besar, dan di sana banyak penduduk lokal melakukan kegiatan olah raga seperti di Monas Jakarta, ada yang hanya sekedar lari sore, aerobic rame rame dan lagi mainan dengan anak anak nya.
Tidak terasa setelah berjalan beberapa lama, langit mulai gelap. Aku berpikir mau balik hotel juga nanggung, jadinya aku memutuskan untuk mencari makan malam sekalian, aku menemukan alamat sebuah tempat makan yang disarankan oleh salah satu blog yang pernah aku baca dan kebetulan dilihat dari alamatnya tidak terlalu jauh dari alamat hotel aku. Nama tempat makannya THE SHOP, merupakan tempat makan yang juga menjual chocolate dan makanan ala eropa yang sudah dimodifikasi dengan bumbu kamboja. Cukup dengan GPS aku bisa menemukan tempat makan nya, kesan pertama dari luar cafe resto ini cukup nyaman, dan setelah aku masuk semakin aku bisa merasakan suasana rumahan dari tempat nya. Makanan yang aku pesan hasil rekomendasi dari waiter yang melayani aku, taste makanan nya enak dan harga cukup worth it dengan apa yang disajikan, tapi yang pasti tidak terlalu mahal.
image

Selesai makan malam, aku melanjutkan jalan jalan sambil menurunkan makanan yang tadi aku santap. Dari peta yang aku lihat, ada beberapa monumen yang di sekitar lokasi. Tujuan terdekat nya adalah Monumen Norodom Sihanouk, monumen ini berada di sebuah taman yang memanjang dan di malam hari nampak terang dengan lampu warna kuning yang mengelilingi semua bagian sudut monumen, dan semakin nampak gemerlap karena justru kota Phnom Pen rada gelap di malam hari.
image

Tak jauh dari monumen Norodom Sihanouk, ada satu monumen lagi yang nampak terang juga dan refleksi cahaya lampu yang mengelilingi monumen yang hampir mirip candi, aku lihat justru lebih indah dibandingkan monumen sebelum nya. Ternyata setelah aku cocokan dengan peta di tangan, yang aku lihat sekarang adalah Independence Monument atau Monumen Kemerdekaan negara Kamboja.
image

Setelah puas mengambil beberapa foto, aku memutuskan untuk kembali ke hotel, karena selain hari sudah cukup malam, aku juga ingat besok harus bangun sedikit lebih pagi karena seharian akan mengelilingi kota Phnom Penh. Sampai di hotel, aku mandi dan beranjak ke tempat tidur, merasakan empuknya ranjang dan zzzzz…..

29 Mei 2014
Seperti biasa wake up call dari reception membangunkan aku, tidak berselang lama alarm aku juga bunyi. Bersiap untuk city tour hari ini, aku mempersiapkan semua perlengkapan yang akan aku bawa, karena start setelah sarapan di hotel, aku nanti bakal balik di malam hari.
Transportasi yang aku gunakan kali ini adalah taxi bukan nya tuk tuk, dengan membayar $55, aku akan diantar ke beberapa tempat utama di kota yang memang hal wajib yang harus dikunjungi saat kita di Phnom Penh. Sebenarnya kalau kita menggunakan Tuk Tuk (tranportasi tradisional di sini) biaya nya akan lebih murah, karena mengingat cuaca yang panas dan bakalan sampai malam, jadi ya sudahlah Taxi saja hehe….

Yukkkk…sopir taxi nya sudah siap di lobby saat aku menyelesaikan sarapan, setelah berbasa basi salam perkenalan, aku segera memulai perjalanan, sepanjang perjalanan sopir taxi yang benama neil menceritakan apa yang dia tahu tentang kota ini, aku mendengarkan sambil sesekali memberikan komentar, jangan kuatir guidenya lancar berbahasa inggris. Lebih kurang 30 menit aku sampai di tujuan wisata yang pertama yaitu : Choeung Ek Genocidal Center, yang lebih dikenal dengan The Killing Field. Berfoto sebentar di depan pintu masuk, aku menuju loket tiket, dengan membayar $6,5 aku boleh berkeliling ke semua area dan mendapat pinjaman headphone dan guide elektronik yang dengan mudah untuk dioperasikan dengan cara kita menekan tombol angka sesuai pemberhentian kita yang mencantumkan angka. Jika kita pencet angka yang benar, maka kita akan mendengarkan cerita yang berkenaan dengan lokasi tersebut. Memasuki area ini langsung kita bisa melihat monumen yang berupa Stupa Budha, di dalam nya ada bagian yang terbuat dari acrylic diisi dengan lebih 5000 kepala tengkorak manusia. Aku menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk berkeliling ke seluruh area bersejarah ini, banyak yang bisa dilihat seperti misalnya lokasi pembuangan mayat, bekas pakaian tahanan yang dibunuh, the killing tree, magic tree dan berakhir di museum nya.
image

Perjalanan aku lanjutkan lagi menuju satu tempat yang tidak kalah menyedihkan dibanding cerita The Killing Field, perjalanan sekitar 40 menit untuk sampai di lokasi wisata yang namanya Tuol Sleng Genocide Museum, sebenarnya tempat ini awalnya adalah sekolah SMA yang dikenal dengan nama Chao Ponhea Yat High School, yang dirubah menjadi penjara oleh pasukan Khmer.
Masuk ke sini cukup membayar sebesar $2, yang kita dapati adalah suasana mencekam meskipun hanya merupakan gedung sekolah, semakin masuk ke dalam kita bisa membayangkan orang tak berdosa yang dijadikan tahanan diperlakukan seperti layaknya binatang. Aku menjelajah ke dalam dan yang aku temui pertama adalah area makam di depan gedung sekolah,masuk ke dalam gedung sekolah ada banyak kelas yang isi setiap kelas berbeda beda, ada yang hanya ranjang dengan alat pasung besi, ada yang satu kelas disekat menjadi banyak ruang ukuran 1m x 1m, ada ruang penyiksaan dengan alat yg dibuat oleh pasukan Khmer. Masuk ke area tersebut lebih dalam aku melihat tiang gantungan yang digunakan untuk menggantung tahanan yang melawan, oiya di depan gedung sekolah juga dipasang kawat berduri. Aku juga melihat angka ditulis di dinding, ternyata itu ditulis dengan darah tahanan yang menghitung sisa hari hidup mereka di tahanan. Kurang lebih sejam juga waktu yang aku habiskan untuk mengelilingi museum ini
image

Matahari tepat di atas kepala aku, Phnom Penh terasa semakin panas hari ini dan aku mulai merasa lapar hehe…bertemu sopir taxi dan ternyata ybs tahu waktu nya juga, dia menawarkan aku untuk makan siang dan aku iya kan langsung. Aku minta diantar ke tempat makan yang menyediakan makanan khas Kamboja. Khmer Booloom Restaurant menjadi pilihan nya, dan ternyata pilihan yang tepat. Aku memesan Green Papaya Salad sebagai pembuka dan Amok Fish with rice untuk main course nya. Sekedar info buat temen2 traveler, Amok Fish ini harus dicoba saat kalian berkunjung ke negara ini
image

Sedikit rada kekenyangan karena porsi makanan yang cukup besar untuk ukuran satu orang. Aku sudah siap lagi untuk melanjutkan perjalanan, setelah melihat dua lokasi yang sedikit mengenaskan, sekarang aku diantar ke pasar yang terkenal di sini, ada 2 pasar yang namanya Russian Market dan Central Market, tapi aku memutuskan ke Central Market, karena Russian Market kondisi pasarnya rada pendek plafon nya dan panas, sedangkan barang yang dijual juga sama. Masuk ke Central Market, sedikit mengingatkan aku suasana pasar grosir di Bangkok, tapi bedanya di sini tidak terlalu ramai. Barang yang dijual di sini beraneka ragam, untuk yang tepat di tengah semua nya menjual perhiasan emas atau silver, di sisi lain nya ada yang jual pakaian, bunga, peralatan rumah tangga dan souvenir. Jangan lupa, kalau belanja di sini harus nawar seminim mungkin ya. bisa coba sampai 60 persen di bawah harga yang penjual tawarkan. Aku membeli beberapa souvenir, tidak lupa aku mencari lonceng kecil yang selalu aku beli setiap aku jalan2 ke manapun itu.
image

Puas berbelanja aku melanjutkan perjalanan lagi ke lokasi wisata yang menjadi keharusan juga saat ke Kamboja, yaitu Royal Palace. Bangunan megah yang sudah aku lihat saat kemarin sampai di negara ini, terlintasi dalam perjalanan dari bandara ke hotel. Lokasi Royal Palace memang berada di tengah kota Phnom Penh, dengan membayar tiket masuk sebesar $6,5 kita bisa berkeliling sepuasnya dan menjelajah ke semua bangunan yang ada di sini. Sebagai gambaran saja, ketika aku masuk ke dalam harus melalui jalan setapak yang di samping ada taman tertata rapi, begitu sampai di pintu masuk, langsung kita bisa melihat area terbuka dan luas dengan beberapa bangunan yang berwarna keemasan. Masing masing bangunan mempunyai detail yang berbeda beda tapi konsepnya semua menunjukkan kesan elegant dan mewah.
image

Aku berjalan berkeliling dan sampai ke sisi area yang dipisahkan oleh tembok, jadi seakan akan Royal Palace ini terbagi menjadi dua bagian area yang terpisah. Kita bisa menemukan peta yang menunjukkan masing2 bagian bangunan, dan di bagian ini aku menemukan bangunan yang terkenal dengan nama Silver Pagoda, dan tanpa sengaja aku juga menemukan miniatur dari Angkor Wat Siam Reap.
image

Hampir satu jam setengah aku berada di dalam Royal Palace dan melihat jam tangan aku menunjukkan pukul 16.30. Saat nya aku harus keluar menemui sopir taxinya dan segera minta di antar ke dermaga untuk mengikuti river cruise untuk melihat sunset di kota Phnom Penh….
Penasaran dengan sunset nya, silakan baca di tulisan aku selanjut nya….

Advertisements

Backpacker

Standard

Lama nggak nulis dan sebenarnya saat aku buka blog kali ini, karena persiapan mau menulis tentang perjalanan aku ke Cambodia. Tapi ada sesuatu yang ingin sedikit aku share aku tuangkan di sini.

Berhubung perjalanan ke Kamboja di luar rencana dan hanya memenuhi keinginan aku untuk jalan2, jadi yg terpikir adalah aku mencari tiket yang paling murah, sehingga untuk mencapai kota Phnom Pen, aku harus naik kereta dari jakarta ke bandung, trus naik pesawat dari bandung ke singapore, dan bahkan harus transit sehari di sini. Karena niat awal adalah pergi dengan budget yang murah, maka untuk tempat tinggal di Singapore aku memesan tempat tidur bukan kamar hehe di b88 hostel. Yang pasti singkatnya proses check in normal saja, cuma aku melihat lobby yang berantakan karena penuh koper punya orang yang tinggal di hostel tsb, dan setelah aku diantar ke kamar di mana tempat tidur yg aku pesan sudah tersedia, begithu membuka pintu kamar yang nampak adalah kamar sempit yang penuh dengan koper, tapi untung nya AC yang ada terasa dingin.

Nah dari gambaran sekilas di atas seperti yang aku sampaikan, aku menarik beberapa kesimpulan yang menjadi opini aku pribadi, dan mungkin ada juga yang tidak setuju, itu hal yang wajar.
Begini:

Salut banget buat orang2 yang bisa melakukan travelling dengan cara backpacker

Andai ke depan nya aku harus memesan kamar ala backpacker, yang pasti aku harus pergi dengan beberapa orang sesuai dengan tempat tidur yang ada di kamar hostel

Membutuhkan toleransi yang sangat besar atau mungkin sifat cuek sedikit terhadap apa yang ada di sekitar tempat tidur kita.

Positifnya, kita bisa mudah mengenal orang yang ada di kamar bersama kita, dan berbagi pengalaman selama mereka melakukan travelling.

Bolu Bolu Beach

Standard

Hai…apa khabar semua nya nih…lama nggak ngisi blog aku karena sibuk urusan kerjaan, trus nggak sempat luangin waktu. Jangan bosen nunggu nya ya…

Kali ini perjalanan aku di kota Malang, karena ada temen yang menikah, sekalian atur perjalanan yang sedikit adventure. Rencana awal mau ke Pulau Sempu, tapi pas sampai di Malang, ada informasi dari teman kalau ada pantai yang masih jarang dikunjungi wisatawan, dan tentunya hal ini membuat aku dan beberapa teman yang ikut setuju untuk mengalihkan rute perjalanan.

Matahari pagi kota Malang menyeruak ketika aku membuka jendela kamar hotel, sambil tersenyum sendiri aku membayangkan perjalanan yang bakal aku tempuh sepanjang hari ini. Tepat pukul 7.30 pagi, aku bertemu teman2 ku yang lain di lobby. Setelah semua kumpul, maka kita memutuskan untuk sarapan dulu sebelum berangkat menuju tempat wisata di daerah Malang Selatan. Karena sesuai info yang diberikan, perjalanan darat yang bakalan kita tempuh dengan mobil kurang lebih 3 jam. Menu soto di jalan Rampal, yang merupakan salah satu tempat tujuan kuliner di Malang jadi pilihan kami, sembari sarapan salah satu teman menghubungi orang yang sudah dikenal di area tempat wisata, menanyakan kondisi di lokasi yang terupdate. Yang rada bikin was was, khabar yang didapat saat ini ombak cukup besar tapi masih memungkinkan untuk perahu menyeberang ke pulau.

Setelah berdiskusi dengan teman2 yang mau berangkat, kita semua sepakat untuk tetap jalan ke lokasi, setidaknya bisa melihat pantai nya. Tepat pukul 10 mobil yang membawa aku dan rombongan meninggalkan kota Malang menuju ke lokasi tujuan wisata yaitu Dusun Lenggoksono, Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo. Akses jalan yang ditempuh selama 2 jam cukup bagus, semua jalanan beraspal. Tapi satu jam sisanya kita harus melewati jalan yang belum beraspal, tidak terlalu lebar, naik turun dan kadang berlobang. Maklum lokasi wisata ini masih perawan menurut teman aku yang memberi saran dan telah aku sampaikan di atas….

Akhir nya sekitar pukul 1 siang, aku dan rombongan sampai di lokasi, bergegas turun dari mobil untuk melihat kondisi pantai nya, dari kejauhan aku bisa melihat beberapa kapal bersandar di pinggir pantai, anak kecil sedang berselancar, tp yang bikin gundah adalah ombak di pantai yang dinamai sesuai nama dusun nya Lenggoksono Beach terlihat cukup besar.
image

Kenalan teman aku yg tadi ditelpon mengajak kami ngobrol, menjelaskan kondisi nya, untungnya si Bapak bilang, kita disuruh menunggu kurang lebih satu jam, supaya air rada surut dan nelayan yang bakal membawa kami menyeberang pulau mempersiapkan kapal nya. Rombongan bakal dibagi dua, karena satu perahu bisa memuat maksimal 8 orang dengan tarif sewanya 400 ribu per perahu.
Sambil menunggu perahu disiapkan, kami membuka bekal snack yang kami bawa, dan yang pasti nggak terlupakan adalah bernarsis ria di depan pantai. Tak terasa satu jam berlalu, Pantai Lenggoksono yang awalnya sepi, sekarang ramai dengan penduduk setempat, ternyata mereka mau membantu menggangkat perahu yang ada di daratan menuju lepas pantai.
image

Begithu perahu sampai di pantai, aku segera naik ke atas perahu. Perlu keahlian khusus untuk bisa membawa perahu ini melewati ombak dan menuju laut lepas, sedikit terombang ambing tapi akhirnya berhasil juga melewati rintangan. Oiya untungnya, cuaca dan ombak di laut bersahabat sehingga perahu bisa dengan mulus menuju tempat tujuan pertama yaitu Bolu Bolu Beach
image

Perjalanan tidak terlalu lama, hanya sekitar 30 menit untuk mencapai pantai ini, terdapat di bagian sebelah barat Pantai Lenggoksono. Pantai ini tidak berpenghuni, hanya kadang warga setempat datang untuk mencari kerang, membersihkan pantai. Tak terasa akhirnya aku sampai di pantai yang diberi nama kayak kue yaitu Bolu Bolu. Perahu merapat ke daratan, aku bersama teman segera berlarian menikmati lembutnya pasir pantai, dari daratan kita bisa melihat keindahan pemandangan lepas pantai, sebenarnya tak banyak yang bisa dilakukan di sini, tetapi suasana yang membuat kita menjadi betah, mengambil beberapa foto dan bermain serta berlarian di sepanjang pantai. Kurang lebih setengah jam bermain di sini, pengemudi perahu memberi isyarat kepada kami untuk melanjutkan perjalanan lagi. Tujuan berikutnya ke Pantai Kletakan
image

Pantai ini hanya dibalik bebatuan dari Bolu Bolu Beach, jadi perahu hanya bergerak sekitar 15 menit, dan kita sudah sampai. Uniknya karena terumbu karang di sini tidak terlalu dalam, sehingga bisa dilihat dengan kasat mata tanpa harus menggunakan alat snorkling, tapi akan lebih indah lagi kalau kira ber snorkling ria di sini. Pengemudi perahu segera menambatkan jangkarnya, sebagian teman aku segera memasang alat snorkling dan menceburkan diri ke laut, yang pasti terumbu karang di sini membuat aku dan teman teman lupa waktu.
Lagi lagi bapak pengemudi perahu mengingatkan kami kembali, bahwa masih ada satu tujuan lagi yang harus didatangi, dan menurut informasi yang di dapat, untuk tempat yang ketiga ini rada sulit melewati nya, karena ombak yang ada dekat pulau ini katanya ombak berputar jika cuaca kurang bagus.
Tapi aku dan teman teman cukup beruntung, karena setelah melihat keadaan ombak di laut dekat pulau tersebut, si Bapak mengatakan BISA, yang artinya kita bisa sampai ke pulau yang ternyata disebut Banyu Anjlok, dimana dalam bahasa Indonesia artinya Air Jatuh, tapi jatuhnya itu bukan jatuh biasa….gimana ya mengartikan nya
image

Sesampainya di pulau yang dimaksud, kami segera berlarian menuju lokasi yang sudah disampaikan di awal, bahwa nama batu anjlok itu adalah Air Terjun yang ada di pulau tersebut…indah sekali memang dan uniknya air yang jatuh di bebatuan tersebut bukan air asin, melainkan air tawar. Di sini hampir semua teman aku tak tahan untuk berbasah ria dibawah guyuran air terjun.
image

Tak terasa, aku menengok jam tangan aku, sudah pukul 4 sore. Waktunya harus kembali, mengingat kita masih harus balik ke pantai Lenggoksono dan menempuh perjalanan darat menuju Kota Malang. Tapi perjalanan yang kita lalui sebanding dengan apa yang kita dapat selama berada di Lenggoksono

Obyek Wisata Biduk Biduk, Berau

Standard

Matahari pagi masuk melewati jendela kamar hotel tempat aku menginap ketika alarm jam berbunyi, segera aku bersiap. Hari ini aku sudah menyewa speedboat untuk melihat obyek wisata yang ada di kecamatan Biduk Biduk, kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Sebelum berangkat aku menikmati sarapan yang sudah disediakan, nasi kuning dengan ikan bumbu balado, telor dan gorengan tempe tahu. Selesai menghabiskan makanan di piring aku segera berangkat, dengan mengendarai mobil menuju Teluk Sulaiman, di mana kapal speedboat yang akan aku tumpangi, memulai perjalanan nya dari situ.
Sampai di Teluk Sulaiman, aku segera menelpon pemilik kapal dan memberitahukan aku sudah siap untuk berpetualangan. Sambil menunggu kapal datang, aku mengambil beberapa foto dan memperhatikan kejernihan dasar air di mana nampak ratusan ikan kecil yang berenang di permukaan dan beberapa ikan besar di bawah nya. Sesuatu yang unik terjadi, ratusan ikan kecil sesekali seperti beterbangan di permukaan air karena menghindar dari kejaran ikan besar yang mau menjadikan mereka santapan.
image

Tak lama berselang terdengar suara speedboat mendekat ke arah dermaga, pengemudi kapal yang bernama Ipin menyapa aku, berbicara sejenak ybs menjelaskan rute yang akan ditempuh, dan aku hanya mengiyakan karena yang terpenting semua obyek wisata di sana aku kunjungi. Speedboat berjalan lambat terlebih dahulu karena air masih dangkal dan tujuan pertama adalah ke Teluk Sigending, teluk yang airnya sangat tenang, di mana kanan kiri nya terdapat hutan bakau, dan sepanjang kita melewati teluk ini kita bisa melihat berbagai tumbuhan laut dan karang karang kecil, bahkan sesekali kita melihat penyu berukuran besar melintas di samping speedboat.
image

Speedboat mulai bergerak lebih cepat ketika sampai pada perairan yang lebih dalam, aku tak bosan bosan nya melihat kiri kanan pulau yang dilewati, tak berapa lama Ipin memperlambat jalan nya speedboat, dia meneriaki aku untuk melihat pulau di sebelah kanan, oh ternyata, ybs menunjuk ke arah pohon yang daun nya bewarna merah bercampu kuning di antara beberapa pohon yang berdaun hijau, dijelaskan juga bahwa tiap periode waktu pohon tersebut daun nya berubah warna. Aku berdecak kagum, karena memang unik juga.
image

Aku mengambil gambar lagi dan hanya dalam waktu sekitar satu jam sudah mendapatkan puluhan foto. Perjalanan dilanjutkan menuju Teluk Sumbang, tidak terlalu jauh juga dr tempat sebelum nya, speedboat merapat di sebuah pulau kecil. Ipin menambatkan kapal di pinggiran pantai, dan mengajak aku masuk ke dalam pepohonan di teluk ini, ternyata di lokasi ini kita bisa menemukan air terjun yang cukup unik dengan nama Air Terjun Bidadari. Begitu melihat air terjun nya, aku hanya bisa terdiam sejenak karena tidak menyangka akan keindahan nya, tahu tahu Ipin memanggil aku untuk mengikuti langkah dia, dengan sigap mendaki tanjakan di samping air terjun, beda dengan aku yang sedikit bersusah payah untuk mendaki karena sedikit licin. Aku sudah tidak menghiraukan percikan air yang membasahi seluruh badan, sampai akhirnya aku mencapai posisi di mana Ipin berdiri, di sela2 suara air dia menjelaskan kenapa dia mengajak aku berdiri di sana, ternyata…dari tempat tersebut aku bisa melihat warna pelangi yang berasal dari air terjun yang terkena sinar matahari, indah banget….
image

Puas menikmati keindahan Air Terjun Bidadari, aku melanjutkan perjalanan lagi menuju Pulau Kaniungan Besarspeed boat melaju dengan cepat. Kali ini menembus laut lepas, sehingga bisa aku rasakan ombak di lautan meskipun tidak terlalu besar. Kurang lebih 45 menit, aku sudah bisa melihat sebuah pulau yang menjadi tujuan. Pulau ini tidak berpenghuni, sehingga benar2 masih alami, syukurlah air masih belum surut benar, sehingga speedboat bisa merapat sampai bibir pantai. Begitu melihat pemandangan pantai di Pulau Ini, aku ingin segera berenang dan berjemur, seakan akan merupakan pulau pribadi, karena tidak ada orang lain yang aku temui.
image

Tidak terasa matahari sudah tepat di atas kepalaku, berarti tanpa melihat jam tangan pun, sudah tahu jam berapa sekarang? Di samping itu perut sudah keroncongan minta diisi, jadi sebelum aku melanjutkan ke tujuan berikutnya, bekal makanan yang sudah dibawa sejak berangkat tadi, saat nya dibuka dan disantap. Makan dulu yukkkk….
Perut udah kenyang, sekarang waktunya speedboat melanjutkan menembus laut lepas yang berikutnya dengan tujuan, Pulau Kaniungan Kecil, sesuai dengan namanya pulau ini ukuran nya lebih kecil dibanding pulau sebelumnya, dari kejauhan yg nampak adalah kilau butiran pasir yang tertepa sinar matahari mengelilingi pulau.
Ternyata setelah aku sampai di pulau ini, keindahan yang ditawarkan tidak kalah bagusnya jika dibandingkan dengan pulau besar nya…
image

Labuhan Cermin

Standard

Alo temen2 traveler…kali ini aku berkesempatan ke Berau, sebuah perjalanan yang aku tunggu2 karena penasaran untuk melihat tempat wisata yang sedang jadi topik pembicaraan yaitu labuhan cermin.
Banyak cara untuk sampai ke Berau…bisa dari Surabaya maupun Jakarta, tapi yg pasti harus via Balikpapan. Dari Balikpapan, ada beberapa pilihan maskapai penerbangan di antara nya: Garuda Indonesia, Wings Air dan Kalstar.

Kali ini aku memilih keberangkatan dari Surabaya, berangkat pukul 1 siang dengan maskapai penerbangan Lion Air, transit di Balikpapan dan pindah ke Wings Air dengan jadwal 16.45 boarding nya. Beruntung hari ini semuanya tepat waktu tanpa delay, sehingga tepat pukul 18.15 aku sudah mendarat di Bandara Kalimarau, Berau. Bandaranya baru sekitar setahun beroperasi, bersih dan bagus.

Dari bandara aku mampir makan dulu sebelum check in hotel, pilihan untuk dinner adalah ikan bakar yang jadi andalan juga nih. Nama tempat makan nya Harmony.

image

Malam ini aku istirahat di Berau dengan menginap di Hotel Palmy, hotel yang boleh dibilang baru dan fasilitasnya Ok. Harga kamar sekitar 500 ribuan.

Bangun pagi, sarapan di sekitar hotel, karena ingin merasakan menu masakan lokal Berau. Setelah mengisi perut, aku start perjalanan menuju Labuhan Cermin. Perjalanan darat yang ditempuh dengan kondisi jalan yang cukup bagus, meskipun ada beberapa ruas jalan yang masih perlu perbaikan atau bekas longsor.

Menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam, aku sampai di desa Talisayan dan memutuskan untuk berhenti mengisi perut hehe…mulai keroncongan juga. Aku memilih RM di ujung jalan dengan nama RM Adinda…menyediakan menu makanan yg di goreng dan dibakar, yg jadi pilihan aku tetap Ikan.

Setelah puas mengisi perut dan siap buat melanjutkan perjalanan…maka mobil meluncur lagi. Sambil menikmati alunan musik yang diputar, aku menikmati pemandangan di sekitar yg dipenuhi dengan pohon sawit dan kadang benar2 masih hutan. Tak terasa 2 jam perjalanan aku tempuh dan sampailah aku di Biduk Biduk…Jam menunjukkan pukul 5.30 sore, aku langsung menuju hotel tempat aku menginap. Dari bekal informasi teman, aku memutuskan menginap di Hotel Mayangsari.

image

Oiya begithu sampai di hotel, tahu2 hujan turun…yang aku anggap ini hujan berkat meskipun dalam hati was2 karena takutnya besok cuaca tidak mendukung aku buat ke Labuhan Cermin.

Selesai check in dan segera mandi karena hari sudah mulai gelap. Sebelum masuk kamar, penjaga hotel yang bernama Mbak Nur, menawarkan untuk menyediakan makan malam, segera aku iya kan… Di samping sudah lapar dan di luar hujan, aku cari simple nya aja. Selesai mandi aku menuju meja makan, sudah tersedia sup kepala ikan, ikan putih bakar dan sambal, serta nggak ketinggalan nasi yang masih panas… sajian yang sempurna. Sambil menurunkan makanan aku duduk di teras, ternyata pemilik penginapan, Pak Haji Herman yang juga sebagai pengurus kelompok sadar wisata sedang ada di sana, jadinya kita ngobrol. Dari keterangan Pak Haji yang mengeluhkan Biduk2 kurang di promosikan dan kondisi masyarakat yang masih belum sadar wisata. Membuat aku makin tertarik dengan wisata di sini. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11…mata sudah mulai lelah dan badan mengajak bertemu ranjang…dan memang aku harus istirahat karena besok harus bangun rada pagi.
………

Aku terjaga di pagi hari, pertama karena terasa agak panas dan baru sadar kalau listrik di sini hanya ada mulai jam 6 sore sampai jam 6 pagi, kedua karena suara di luar sudah rada ramai. Segera aku membuka jendela kamar dan langsung tersenyum sendiri, karena langit cerah dan matahari sudah nampak. Segera aku mandi dan siap2 buat berangkat ke Labuhan Cermin
Dari hotel, aku naik mobil menuju jembatan yang merupakan dermaga juga, perjalanan hanya sekitar 15 menit untuk sampai dermaga. Dari sini kita naik kapal kecil dengan motor pendorong yang tidak terlalu besar untuk menyusuri sungai dan masuk ke lokasi labuhan cermin

image

Hanya sekitar 15 menit di kapal kita sudah mendapatkan pemandangan yang berbeda banget…aku langsung takjub dan tidak menyangka dengan apa yg selama ini aku baca danau yang air nya mempunyai dua rasa, sekarang sudah ada di depan mata aku.

image

Kapal memasuki area labuhan cermin dan berputar mengelilingi area itu, kecepatan nya mulai diperlambat sehingga aku makin terpesona karena jernihnya air sehingga kita bisa melihat ratusan ikan dan bebatuan di dalam air…benar2 indah.

image

Setelah berkeliling satu putaran, kapal bersandar di tempat yang memang sudah disediakan untuk kita turun dan meletakkan barang, dan bisa santai menikmati dingin nya air dan pemandangan sekitar yang sangat menakjubkan serta bermain kano yang sudah ada di sana. Aku sudah tidak sabar ingin segera berenang dan hanyut dalam kebeningan Labuhan Cermin.

image

Enthog Budhe, Purbalingga

Standard

image

Alooo…karena tugas pekerjaan, akhirnya sampai juga aku di kota Purbalingga. Sebenernya kota ini terkenal dengan pabrik bulu matanya. Tapi kali ini aku nggak membahas masalah itu. Yang mau aku bahas justru makanan yang ditawarkan oleh teman asli kota ini.

Enthog Budhe, dari namanya sudah jelas menu utama tempat makan ini adalah enthog. Mungkin ada yang belum tahu enthog itu apa? Enthog adalah bebek muda. Dimasak ala rica rica. Selain menu enthog ada juga pilihan rica ayam. Boleh juga kalau yang pengen makan nasi campur, bisa langsung milih apa yg sudah disediakan.

Dengan membayar 30.000 kita sudah bisa menikmati seporsi rica enthog atau rica ayam, nasi putih sepuas nya dan segelas es jeruk. Lokasi nya ada di Jalan Mintaraga, Purbalingga. Jadi buat yg ke Purbalingga, boleh mampir ke sini…dan selamat mencoba…

@HOM Semarang

Standard

image

Hotel yang berada di Jalan Pandanaran no 119, Semarang. Kalau mau reservasi bisa melalui beberapa alternatif di antaranya: langsung telpon ke +6224 – 86449000, bisa ke web nya langsung di http://www.horisonhotels.com, dan bisa melalui agoda. Tinggal dibandingkan mana yg lebih menguntungkan.

Hotel yang mempunyai 121 kamar dengan total lantai sebanyak 13, tipe kamar mulai dr superior, deluxe, executive sampai ada yg penthouse. Fasilitas tambahan yg diberikan adalah free wifi, room service 24 hours, malabar resto, TV channel dan meeting room.

Kalau dari sisi lokasi, tdk perlu diragukan lagi. Karena berada di pusat kota. Mau ke simpang lima dekat saja bisa jalan. Kalau ke Mal Paragon bisa naik becak atau taxi. Hotel nya bersih dan layak untuk jadi pilihan.