Category Archives: Wisata Alam

Anambas

Standard

Back nulis lagi…setelah beberapa waktu ini sibuk muter aja…sebener nya perjalanan aku ke Anambas udah beberapa bulan yang lalu, tapi baru sekarang nih dapat inspirasi buat nulis.

Sebagian orang bahkan mungkin nggak tahu pulau ini ada di mana ya hehe…aku juga cuma dengernya setelah ada pekerjaan di kepulauan Riau. Tapi info tentang kepulauan ini sangat minim sekali. Semoga aja  tulisan aku bisa menambah informasi juga.
Oiya kebetulan saat aku berangkat ke Anambas, waktunya boleh dibilang kurang tepat, karena saat itu satu2 nya pesawat yang terbang ke sana habis kontrak dan tidak diperpanjang oleh “siapa” juga nggak jelas, pokok intinya nggak terbang lagi hehe…
Jadi rute perjalanan yang aku tempuh adalah naik pesawat dari Jakarta ke Tanjung Pinang, kemudian lanjut naik kapal ferry MV Seven Star Island dengan biaya Rp. 250.000,- per orang. Jangan kaget dulu ya, rute kapal ferry Tanjung Pinang – Letung – Tarempa ditempuh dalam waktu kurang lebih 9 jam, yang parahnya no signal sepanjang perjalanan. Siap siap bawa apa aja buat mengusir kebosanan. Tapi khabarnya skrg udah ada pesawat carter yang terbang setiap hari.

Kapal ferry berangkat start jam 8 pagi dari Pelabuhan Sri Bintan Pura menuju ke Tarempa, dengan satu kali berhenti di Letung. Selama perjalanan aku usahakan tidur, kalau pun terbangun palingan makan, main game atau sekedar baca buku yang ringan, sesekali kapal ferry terasa terombang ambing karena arus bawah laut yang keras. Sekitar pukul 17.00 kapal ferry merapat di pelabuhan Tarempa, tapi dua jam sebelum nya menurunkan dan mengangkut penumpang. Dari dermaga aku sudah melihat sebagian dari pulau Tarempa, ada yang warnanya sangat mencolok di satu sisinya, dominan warna merah bangunan nya dan itu ternyata Kuil yang nantinya akan aku kunjungi.

20140417_123721

Turun dari kapal ferry, rasanya benar2 lega karena bisa menghirup udara segar kepulauan ini, kota Tarempa yang kecil tapi padat banget. Oiya aku jelasin dulu nih, jadi Kepulauan Anambas terdiri dari 3 kecamatan yaitu : Jemaja, Siantan dan Palmatak. Tarempa adalah salah satu daerah yang paling ramai di Siantan. Lanjut ya…
Hotel yang udah aku pesan hasil rekomendasi dari teman adalah Tarempa Beach, tinggal jalan kaki sekitar 15 menit dari dermaga. Sebenarnya banyak hotel lain yang jaraknya juga berdekatan seperti Anambas Inn, Tropical Inn dan masih ada tempat penginapan kecil. Keunggulan Tarempa Beach Inn adalah jika kita mendapat kamar yg posisinya menghadap ke laut, sehingga saat menjelang malam bisa melihat indah nya sunset. Dan satu lagi, hotel ini bersebelahan dengan tempat nongkrong yang paling hits di Tarempa yaitu Cafe Laluna

Tarempa

Esok harinya, aku bangun dan menikmati sarapan dekat pasar yang ada di tarempa, warung kopi sederhana yang menyediakan aneka minuman dan makanan kecil, sambil mencari informasi tempat wisata yang bisa aku kunjungi dengan mudah karena waktu yg terbatas. Aku menyewa jasa ojek yang mangkal dekat pasar, dan kebetulan orang nya berasal dari pulau Jawa, sehingga komunikasinya lebih enak dalam tawar menawar harga.
Kunjungan pertama adalah ambil foto di Batu Timpa, lokasinya nggak jauh dari hotel tempat aku menginap dan ada di pinggir jalan, tapi bentuk nya cukup unik sesuai dengan namanya, karena beberapa batu besar saling tumpuk, seperti ada yang mengatur.

20140417_114618

Setelah mengambil beberapa foto, perjalanan aku lanjutkan. Belum juga 10 menit tukang ojek sudah berhenti lagi, ternyata ada spot tempat yang bisa dijadikan obyek foto, yaitu monumen yang dibangun untuk ucapan terimakasih secara simbolis dr masyarakat Tarempa kepada Angkatan Laut RI yang menjaga keamanan di sana. Monumen ini berada di pinggir laut dan aku nggak mau ketinggalan untuk mengabadikan nya.

20140417_124558

Ayo, lanjut lagi ke tujuan yang lain yaitu ke sebuah dermaga yang digunakan oleh perahu angkutan gratis untuk anak sekolah dan masyarakat di pulau lain sekitar Tarempa, perahu di sini menjadi transportasi utama. Nama dermaga nya Dermaga Tanjung Momong, dari pinggiran dermaga kita bisa mengambil foto laut lepas yang berwarna biru dan jernih.

20140417_115528

Dari dermaga, perjalanan aku lanjutkan lagi ke sebuah pantai yang cukup terkenal di Tarempa, hamparan pasir putih dengan beberapa pohon kelapa dan tentunya air laut yang biru dan jernih jadi paduan yang sempurna. Menurut pak Yanto si tukang ojek, setiap sore di hari Sabtu dan Minggu, masyarakat sekitar banyak yang bermain di sini. Karena pas aku ke sini hari biasa bukan week end, jadinya pantai nya sepi dan aku bisa puas mengambil foto dan bermain air. Oiya nama pantai nya

20140417_120233

Belum bosen bacanya khan hehe…masih inget tulisan di atas yg aku bilang bangunan merah mencolok yang terlihat dr kejauhan saat perahu akan merapat di dermaga kota Tarempa, sekarang aku sudah bisa melihat dari jarak dekat, ternyata ini sebuah kuil yang bernama Vihara Gunung Dewa Siantan. Kuil ini merupakan salah satu wisata religi yang dimiliki oleh Tarempa. Lokasi nya rada tinggi di tebing dan dari lokasi ini kita bisa memandang lautan lepas. Layaknya sebuah kuil, maka di sini juga bisa dilihat patung patung dewa yang dipercaya umat budha di beberapa sudut nya.

20140417_113202

Tak terasa udah pukul 3 sore, Pak Yanto mengingatkan aku untuk segera menyelesaikan aktifitas aku di kuil, karena abis ini mau melanjutkan perjalanan ke Air Terjun, jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 45 menit dr sini, tapi kondisi jalanan menuju ke lokasi yang kurang bersahabat kalau hujan dan gelap. Benar apa yang disampaikan, saat aku di boncengan motor dan melihat jalan yang sebagian besar belum beraspal dan hanya merupakan tanah merah yang padat, sempat ciut juga nih nyali, tapi rasa penasaran untuk melihat tempat wisata nya membuat aku meneruskan perjalanan, dan melihat gaya menyetir pak yanto yang sudah biasa melewati rute ini semakin mengurangi keraguan. Bener aja, sesampainya di lokasi Air Terjun Temburun, yang berada di Desa Batu Belah, Kecamatan Siantan Timur aku berdecak kagum, karena dari posisi tengah dari ketinggian air terjun yang airnya mengalir pada bebatuan yang terjal, aku bisa melihat keindahan kepulauan anambas

20140418_105751

20140418_110035

Oh indah nya kepulauan Anambas yang hanya aku lihat sebagian kecilnya, saat hari menjelang gelap aku harus kembali. Yang pasti kenangan selama di Tarempa bisa aku bagi buat teman teman semua…

Advertisements

Air Terjun Madakaripura

Standard

Salam dari kota Surabaya hehe…kenapa kok aku bilang begithu, karena perjalanan ke air terjun ini dimulai dari Surabaya.

Okay aku cerita sekilas tentang Madakaripura ya all travellers, air terjun ini terletak di Kecamatan Lumbang, Probolinggo. Mungkin belum se popular Gunung Bromo, padahal merupakan tempat wisata yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Semeru. Konon ceritanya air terjun ini merupakan area meditasi paling akhir Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa nya.

Sekarang saat nya aku memulai perjalanan ke sini ya, berangkat dari Surabaya dengan mobil sewaan, menuju Tongas. Sampai pertigaan Tongas sudah ada petunjuk ke arah Air Terjun Madakaripura. Dari pertigaan tersebut, kurang lebih 30 menit kita melewati jalan sedikit berkelok kelok.
Sampailah kita di depan pintu masuk, yang dari kejauhan sudah nampak Patung Besar Patih Gajah Mada dalam posisi duduk sedang melakukan meditasi.
image

Untuk mencapai air terjun yang utama, kita harus berjalan masuk ke dalam sekitar 20 menit, tapi meskipun waktunya tidak terlalu lama harus mempersiapkan diri dengan menggunakan sandal yang tidak licin dan siap untuk basah kuyub, meskipun ada penyewaan jas hujan tapi malah tidak excited kalau tidak terkena air langsung. Hanya berjalan sedikit masuk ke dalam, di depan mata sudah nampak pepohonan yang rimbun dan hijau.
image

Jalan yang dilewati adalah sepanjang aliran sungai yang ada di sana, sehingga beberapa kali kita harus menyeberang sungai kecil bebatuan, terkadang arus nya cukup kuat. Oiya hampir lupa, untuk masuk ke dalam kita bisa didampingi pemandu lokal yang siap membantu saat kita menyeberangi sungai, tapi jangan lupa untuk melakukan deal harga di depan, jangan sampai kena pungli setelah kembalinya.
image

Setelah berjalan sekitar 10 menit sudah terdengar suara air dan percikan nya seperti hujan gerimis, dan samar samar beberapa air terjun sudah nampak, sehingga semakin semangat untuk segera bisa sampai di pusat nya.
image

Nah, nggak berapa lama pemandu mengingatkan aku untuk berhati hati karena akan melewati percikan air dari atas yang mengucur cukup deras dan akan membuat badan basah. Hal itu tidak menciutkan niat, malah ini kesempatan untuk bermain air dan merasakan segarnya air murni dari gunung.
image

Badan basah kuyub terbayar dengan apa yang aku lihat ketika sudah melewati guyuran air deras, 3 tetesan air yang mengucur deras dari sisi tebing bisa masing masing membentuk bagian nya dan pastinya membuat aku berdecak kagum.
image

Sekarang bagian jalan yang paling sulit untuk mencapai Air Terjun yang terbesar, karena kita benar benar harus menaiki dinding tebing yang rada tinggi dan kadang batu pijakan nya licin. Nggak usah takut, sesulit apapun tetap masih bisa dilewati kok, karena kalau tidak berani naik justru akan rugi sendiri karena akan kehilangan moment untuk melihat keindahan alam yang sangat indah di sini
image

Finally selesai juga perjalanan kita di Air Terjun Madakaripura, sebuah kenangan yang berbekas menghilangkan rasa capek yang sudah kita rasakan sebelum nya…

Ora Beach, Maluku

Standard

Excited…itu yang bisa aku rasakan, akhirnya hari keberangkatan ke tempat wisata ini datang juga. Meskipun badan masih terasa sedikit capek karena habis perjalanan dari Batam pukul 15.00 dan jam 24.00 aku sudah ada lagi di bandara Soeta.
image
Dengan menggunakan pesawat Lion aku akan menuju kota Ambon terlebih dahulu. Tepat pukul 01.30 dini hari, pesawat berangkat. Perjalanan sekitar 3,5 jam aku manfaatkan buat istirahat. Beda waktu antara Jakarta dan Ambon adalah 2 jam, sehingga tepat pukul 07.00 aku mendarat di Bandara Pattimura.
image

Setelah mengambil bagasi, dari bandara perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Tulehu, kurang lebih satu jam. Selama perjalanan ke pelabuhan, kiri kanan banyak pegunungan yang kita lihat. Pukul 08.50 aku sampai di Tulehu, segera bergegas masuk ke dalam ferry Cantika Torpedo yang akan membawa aku menuju ke Masohi. Karena waktunya mepet, jadi sarapan dilakukan di ferry, menu nasi kuning pilihan nya.
image

Perjalanan ke Masohi kurang lebih selama 2 jam, kapal ferry bergerak sedikit lambat menuju ke laut lepas, ombak di bulan Juni mulai ada sehingga ferry nya rada goyang. Lanjutan perjalanan ini aku gunakan untuk menambah waktu tidur ku.
image

Sekitar pukul 11.25 kapal ferry merapat di pelabuhan Amahai, Masohi. Di sini udah siap mobil yang menjemput aku dan rombongan menuju ke Desa Saleman. Tapi berhubung sudah jam makan siang maka aku diajak untuk mampir makan di RM Seafood Julia, sajian ikan dengan berbagai olahan seperti bakar, kuah atau goreng sudah tersaji di meja, ditambah menu seafood lain nya seperti udang dan cumi.
image
image
Selesai makan siang, aku mampir ke mini market di seberang rumah makan untuk membeli beberapa keperluan dan sedikit menambah snack, karena di Eco Resort tidak ada toko sama sekali.
Beres semuanya, perjalanan darat segera aku jalani, menurut keterangan dari guide setempat, waktu yg diperlukan sekitar2,5 jam. Sepanjang perjalanan kita kembali disuguhi pemandangan perbukitan, sungai besar dan bahkan lembah yang indah. Jalanan yang dilewati cukup bagus meskipun sesekali kita bertemu dengan jalan bekas longsor yang sedang diperbaiki, hanya pada saat akan mencapai negeri Saleman, jalanan tidak beraspal dan karena bekas hujan, sehingga rada was was juga, untung nya sopir yg membawa aku sudah berpengalaman.
Sebelum sampai tujuan, mobil berhenti di sebuah tempat di namai Pintu Angin, di sini aku diberi kesempatan untuk mengambil foto dan sekaligus berfoto dengan background Ora Beach dr ketinggian.
image

Puas mengambil beberapa foto, ternyata hujan datang meskipun matahari sebenarnya masih ada, bergegas aku masuk mobil dan melanjutkan lagi perjalanan.
Tak berapa lama, mobil memasuki area negeri saleman dan langsung menuju dermaga kecil yang akan menghubungkan negeri saleman dengan Ora Eco Resort.
image

Sambil menunggu hujan reda, aku dan rombongan berteduh di pondok dekat dermaga, gerimis tidak menyurutkan kegembiraan kami, apalagi setelah mendapat keterangan dari Mas Adi, guide selama perjalanan yg mengatakan, kalau biasanya sehabis gerimis akan muncul pelangi, dan omongan tersebut benar, karena saat gerimis berhenti, aku bisa melihat pelangi. Thx God buat kesempatan melihat keindahan Ciptaan Mu.
Okay, lets go. Aku naik ke longboat untuk menuju Resort tempat menginap selama 2 malam. Sebuah bangunan di atas air yang sangat unik dan berkonsep alam, akan aku tinggali selama di sini.
Begithu sampai, aku hanya bisa berdecak kagum, karena melihat aslinya resort ini dan bening nya air laut di bawah penginapan nya. Segera aku mendengarkan briefing mengenai acara selama di sini dan pembagian kamar.
image

Sampai di kamar aku meletakkan semua barang bawaan dan melihat semua sudut kamar, konsep bangunan yang alami tp sudah dipadukan dengan sesuatu yang modern, dan setiap kamar mempunyai jendela yang besar di mana menghadap ke laut lepas, konsep kamar mandi yang sedikit terbuka. Bergegas aku berganti pakaian, persiapan untuk berenang dan bermain air, sekaligus mencoba kamera air yang baru kubeli menjelang ke sini. Keluar dari kamar sebelum menuju tempat turun untuk ber snorkling, aku melewati tempat makan dan terlihat teman2 satu rombongan sedang berkumpul, ternyata mereka sedang menikmati snack yang sudah disiapkan, aku tak ketinggalan mencicipi pisang goreng, kue donat dan menikmati secangkir teh, tak berhenti ocehan mereka mengenai perjalanan panjang yang sudah dilewati dan akhirnya sampai di sini.
Banyak yang dilakukan di pantai Ora, seperti yang aku lakukan sore ini, sekedar bermain air di bibir pantai, snorkling sambil mengambil beberapa gambar dari coral dan ikan, naik kano di sekeliling eco resort bahkan dengan hanya duduk santai kita sudah bisa menikmati kebeningan air laut yang menyuguhkan keindahan dalam lautnya.
image
image
image

Tak terasa hari mulai gelap, sayang sore ini rada mendung sehingga cahaya sunset tidak sempurna, aku beranjak ke kamar untuk bersiap menyantap makan malam yang sudah disediakan oleh pihak resort.
Selesai makan, briefing sebentar dan mata serta badan mengisyaratkan untuk istirahat, mengingat besok masih banyak aktifitas yang akan dilakukan.

Bangun pagi, membuka jendela kamar, aku masih bisa melihat bulan yang akan menghilang karena berganti pagi. Pemadangan coral di kebeningan Ora semakin indah di pagi hari. Sambil menunggu waktu sarapan aku mengambil beberapa foto di area belakang resort. Setelah sarapan, aku dan rombongan segera menuju ke dermaga, speedboat sudah siap mengantar ke Pulau Tujuh. Dari namanya sudah bisa ditebak kalau pulau yg ada berjumlah tujuh, tapi itu dulu. Sekarang pulau nya sisa enam karena salah satu pulau nya tenggelam.
image

Perjalanan sekitar 45 menit melalui laut lepas, speedboat bergerak melambat, ternyata kegiatan di awal adalah snorkling. Terumbu karang yang kita lihat lebih bagus lagi dan guide mengingatkan kepada semuanya untuk tidak menginjak terumbu karang. Snorkling selama satu jam tidak terasa sama sekali, tetapi perjalanan harus dilanjutkan.
image

Tujuan selanjutnya adalah sebuah pantai di salah satu Pulau Tujuh, pantai yang berada di pulau tidak berpenghuni mempunyai pasir putih yang halus dan gradasi warna yang indah, jika ombak datang nampak deburan nya sedikit berwarna merah muda, bermain air sambil mengambil beberapa foto dilakukan di sini sampai makan siang tiba. Bekal yang sudah dibawa sejak berangkat dibuka di sini. Menu ikan goreng, sayur kacang dan sambal sangat menggugah selera sehabis melakukan aktifitas yang cukup menguras tenaga.
image

Selesai menghabiskan makan siang perjalanan kita lanjutkan kembali. Menuju sebuah tebing yang tinggi dan bebatuan kecil di sisinya, tempat ini dinamakan Hatukanita, awalnya aku juga kurang tahu apa yang akan kita lakukan lagi di sini, oh ternyata sesi pemotretan dengan menaiki kano serta latar belakang tebing, secara bergantian seluruh peserta dalam rombongan diambil beberapa gambarnya, memang sebuah perpaduan yang indah dari hasil foto yang didapat, sementara menunggu giliran, aku mengambil beberapa foto tebing dengan bebatuan yang kokoh.
image

Sesi foto berakhir, speedboat bergerak kembali tetapi tidak terlalu cepat dan hanya sedikit berbelok di belakang tebing, dari kejauhan nampak semacam joglo di atas air, tujuan kita ke sana. Speedboat merapat dan semua turun ke dalam air yang tidak terlalu dalam, menuju sebuah goa yang ada di tebing, Goa Kelelawar. Lobang goa adalah kikisan ombak tanpa ada campur tangan manusia, sungguh menakjubkan, aku masuk sampai ke dalam ujung goa, dan melihat ke atas. Nampak banyak kelelawar beterbangan di dinding batu tebing dan samar terdengar suara nya yang seperti anak kecil sedang menjerit.
image

Kegiatan hari ini masih dilanjutkan dengan melakukan trecking di suatu pulau yang diberi nama Hatu Holo, awalnya ketika melihat ketinggian yang akan ditempuh sebagian peserta rombongan berpikir pikir untuk ikut, tapi akhirnya memutuskan untuk mencoba mendaki semuanya, cukup melelahkan juga sampai semua mandi keringat, tetapi dengan semangat karena penasaran akan apa yang akan kita lihat, akhirnya sampai juga di atas puncak bukit. Wow…sungguh indah itu yang terdengar dari salah satu teman yang sudah sampai duluan. Dari ketinggian ini, terlihat sebuah pulau kecil di tengah laut lepas dan deburan ombak di sekeliling nya memberikan suguhan pemandangan yang membuat kita lupa akan rute yang telah kita jalani tadi.
image

Saat nya turun dari ketinggian, tidak terlalu sulit dibanding saat naik tadi. Semua mendapat angin segar karena diberi tahu bahwa sesampainya di bawah sudah disiapkan kelapa muda yang dipetik langsung dari pohon yang ada di pulau tersebut, segar sekali air buah kelapa asli. Menikmatinya sambil bercanda dengan anak anak kecil yang tinggal di pulau tersebut. Berikutnya satu tujuan lagi sebagai penutup kita di ajak ke mata air belanda, di mana mata air yang merupakan air tawar berasal dari gunung dan bertemu dengan air laut di bibir pantai. Begithu sampai, semuanya berlari ke arah air tawar karena ingin membasuh seluruh badan yang sudah seharian terkena air laut dan keringat. Mata air ini dingin sekali airnya dan sangat nyaman, di samping berendam, kita juga bermain air melepas semua kelelahan atas perjalanan sepanjang hari ini
image

Tak terasa hari sudah mulai gelap, saat nya kembali ke Resort. Yang terbayang adalah keindahan yang telah kita dapat dan perut sudah mulai keroncongan karena juga sudah hampir waktunya makan malam. Selepas makan malam, segera istirahat, mengingat besok pagi kita sudah harus balik pulang dengan membawa kenangan yang indah tentang sebuah resort yang berada di teluk dengan kebeningan air yang tiada tara. I love Ora Beach

Bolu Bolu Beach

Standard

Hai…apa khabar semua nya nih…lama nggak ngisi blog aku karena sibuk urusan kerjaan, trus nggak sempat luangin waktu. Jangan bosen nunggu nya ya…

Kali ini perjalanan aku di kota Malang, karena ada temen yang menikah, sekalian atur perjalanan yang sedikit adventure. Rencana awal mau ke Pulau Sempu, tapi pas sampai di Malang, ada informasi dari teman kalau ada pantai yang masih jarang dikunjungi wisatawan, dan tentunya hal ini membuat aku dan beberapa teman yang ikut setuju untuk mengalihkan rute perjalanan.

Matahari pagi kota Malang menyeruak ketika aku membuka jendela kamar hotel, sambil tersenyum sendiri aku membayangkan perjalanan yang bakal aku tempuh sepanjang hari ini. Tepat pukul 7.30 pagi, aku bertemu teman2 ku yang lain di lobby. Setelah semua kumpul, maka kita memutuskan untuk sarapan dulu sebelum berangkat menuju tempat wisata di daerah Malang Selatan. Karena sesuai info yang diberikan, perjalanan darat yang bakalan kita tempuh dengan mobil kurang lebih 3 jam. Menu soto di jalan Rampal, yang merupakan salah satu tempat tujuan kuliner di Malang jadi pilihan kami, sembari sarapan salah satu teman menghubungi orang yang sudah dikenal di area tempat wisata, menanyakan kondisi di lokasi yang terupdate. Yang rada bikin was was, khabar yang didapat saat ini ombak cukup besar tapi masih memungkinkan untuk perahu menyeberang ke pulau.

Setelah berdiskusi dengan teman2 yang mau berangkat, kita semua sepakat untuk tetap jalan ke lokasi, setidaknya bisa melihat pantai nya. Tepat pukul 10 mobil yang membawa aku dan rombongan meninggalkan kota Malang menuju ke lokasi tujuan wisata yaitu Dusun Lenggoksono, Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo. Akses jalan yang ditempuh selama 2 jam cukup bagus, semua jalanan beraspal. Tapi satu jam sisanya kita harus melewati jalan yang belum beraspal, tidak terlalu lebar, naik turun dan kadang berlobang. Maklum lokasi wisata ini masih perawan menurut teman aku yang memberi saran dan telah aku sampaikan di atas….

Akhir nya sekitar pukul 1 siang, aku dan rombongan sampai di lokasi, bergegas turun dari mobil untuk melihat kondisi pantai nya, dari kejauhan aku bisa melihat beberapa kapal bersandar di pinggir pantai, anak kecil sedang berselancar, tp yang bikin gundah adalah ombak di pantai yang dinamai sesuai nama dusun nya Lenggoksono Beach terlihat cukup besar.
image

Kenalan teman aku yg tadi ditelpon mengajak kami ngobrol, menjelaskan kondisi nya, untungnya si Bapak bilang, kita disuruh menunggu kurang lebih satu jam, supaya air rada surut dan nelayan yang bakal membawa kami menyeberang pulau mempersiapkan kapal nya. Rombongan bakal dibagi dua, karena satu perahu bisa memuat maksimal 8 orang dengan tarif sewanya 400 ribu per perahu.
Sambil menunggu perahu disiapkan, kami membuka bekal snack yang kami bawa, dan yang pasti nggak terlupakan adalah bernarsis ria di depan pantai. Tak terasa satu jam berlalu, Pantai Lenggoksono yang awalnya sepi, sekarang ramai dengan penduduk setempat, ternyata mereka mau membantu menggangkat perahu yang ada di daratan menuju lepas pantai.
image

Begithu perahu sampai di pantai, aku segera naik ke atas perahu. Perlu keahlian khusus untuk bisa membawa perahu ini melewati ombak dan menuju laut lepas, sedikit terombang ambing tapi akhirnya berhasil juga melewati rintangan. Oiya untungnya, cuaca dan ombak di laut bersahabat sehingga perahu bisa dengan mulus menuju tempat tujuan pertama yaitu Bolu Bolu Beach
image

Perjalanan tidak terlalu lama, hanya sekitar 30 menit untuk mencapai pantai ini, terdapat di bagian sebelah barat Pantai Lenggoksono. Pantai ini tidak berpenghuni, hanya kadang warga setempat datang untuk mencari kerang, membersihkan pantai. Tak terasa akhirnya aku sampai di pantai yang diberi nama kayak kue yaitu Bolu Bolu. Perahu merapat ke daratan, aku bersama teman segera berlarian menikmati lembutnya pasir pantai, dari daratan kita bisa melihat keindahan pemandangan lepas pantai, sebenarnya tak banyak yang bisa dilakukan di sini, tetapi suasana yang membuat kita menjadi betah, mengambil beberapa foto dan bermain serta berlarian di sepanjang pantai. Kurang lebih setengah jam bermain di sini, pengemudi perahu memberi isyarat kepada kami untuk melanjutkan perjalanan lagi. Tujuan berikutnya ke Pantai Kletakan
image

Pantai ini hanya dibalik bebatuan dari Bolu Bolu Beach, jadi perahu hanya bergerak sekitar 15 menit, dan kita sudah sampai. Uniknya karena terumbu karang di sini tidak terlalu dalam, sehingga bisa dilihat dengan kasat mata tanpa harus menggunakan alat snorkling, tapi akan lebih indah lagi kalau kira ber snorkling ria di sini. Pengemudi perahu segera menambatkan jangkarnya, sebagian teman aku segera memasang alat snorkling dan menceburkan diri ke laut, yang pasti terumbu karang di sini membuat aku dan teman teman lupa waktu.
Lagi lagi bapak pengemudi perahu mengingatkan kami kembali, bahwa masih ada satu tujuan lagi yang harus didatangi, dan menurut informasi yang di dapat, untuk tempat yang ketiga ini rada sulit melewati nya, karena ombak yang ada dekat pulau ini katanya ombak berputar jika cuaca kurang bagus.
Tapi aku dan teman teman cukup beruntung, karena setelah melihat keadaan ombak di laut dekat pulau tersebut, si Bapak mengatakan BISA, yang artinya kita bisa sampai ke pulau yang ternyata disebut Banyu Anjlok, dimana dalam bahasa Indonesia artinya Air Jatuh, tapi jatuhnya itu bukan jatuh biasa….gimana ya mengartikan nya
image

Sesampainya di pulau yang dimaksud, kami segera berlarian menuju lokasi yang sudah disampaikan di awal, bahwa nama batu anjlok itu adalah Air Terjun yang ada di pulau tersebut…indah sekali memang dan uniknya air yang jatuh di bebatuan tersebut bukan air asin, melainkan air tawar. Di sini hampir semua teman aku tak tahan untuk berbasah ria dibawah guyuran air terjun.
image

Tak terasa, aku menengok jam tangan aku, sudah pukul 4 sore. Waktunya harus kembali, mengingat kita masih harus balik ke pantai Lenggoksono dan menempuh perjalanan darat menuju Kota Malang. Tapi perjalanan yang kita lalui sebanding dengan apa yang kita dapat selama berada di Lenggoksono

Obyek Wisata Biduk Biduk, Berau

Standard

Matahari pagi masuk melewati jendela kamar hotel tempat aku menginap ketika alarm jam berbunyi, segera aku bersiap. Hari ini aku sudah menyewa speedboat untuk melihat obyek wisata yang ada di kecamatan Biduk Biduk, kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Sebelum berangkat aku menikmati sarapan yang sudah disediakan, nasi kuning dengan ikan bumbu balado, telor dan gorengan tempe tahu. Selesai menghabiskan makanan di piring aku segera berangkat, dengan mengendarai mobil menuju Teluk Sulaiman, di mana kapal speedboat yang akan aku tumpangi, memulai perjalanan nya dari situ.
Sampai di Teluk Sulaiman, aku segera menelpon pemilik kapal dan memberitahukan aku sudah siap untuk berpetualangan. Sambil menunggu kapal datang, aku mengambil beberapa foto dan memperhatikan kejernihan dasar air di mana nampak ratusan ikan kecil yang berenang di permukaan dan beberapa ikan besar di bawah nya. Sesuatu yang unik terjadi, ratusan ikan kecil sesekali seperti beterbangan di permukaan air karena menghindar dari kejaran ikan besar yang mau menjadikan mereka santapan.
image

Tak lama berselang terdengar suara speedboat mendekat ke arah dermaga, pengemudi kapal yang bernama Ipin menyapa aku, berbicara sejenak ybs menjelaskan rute yang akan ditempuh, dan aku hanya mengiyakan karena yang terpenting semua obyek wisata di sana aku kunjungi. Speedboat berjalan lambat terlebih dahulu karena air masih dangkal dan tujuan pertama adalah ke Teluk Sigending, teluk yang airnya sangat tenang, di mana kanan kiri nya terdapat hutan bakau, dan sepanjang kita melewati teluk ini kita bisa melihat berbagai tumbuhan laut dan karang karang kecil, bahkan sesekali kita melihat penyu berukuran besar melintas di samping speedboat.
image

Speedboat mulai bergerak lebih cepat ketika sampai pada perairan yang lebih dalam, aku tak bosan bosan nya melihat kiri kanan pulau yang dilewati, tak berapa lama Ipin memperlambat jalan nya speedboat, dia meneriaki aku untuk melihat pulau di sebelah kanan, oh ternyata, ybs menunjuk ke arah pohon yang daun nya bewarna merah bercampu kuning di antara beberapa pohon yang berdaun hijau, dijelaskan juga bahwa tiap periode waktu pohon tersebut daun nya berubah warna. Aku berdecak kagum, karena memang unik juga.
image

Aku mengambil gambar lagi dan hanya dalam waktu sekitar satu jam sudah mendapatkan puluhan foto. Perjalanan dilanjutkan menuju Teluk Sumbang, tidak terlalu jauh juga dr tempat sebelum nya, speedboat merapat di sebuah pulau kecil. Ipin menambatkan kapal di pinggiran pantai, dan mengajak aku masuk ke dalam pepohonan di teluk ini, ternyata di lokasi ini kita bisa menemukan air terjun yang cukup unik dengan nama Air Terjun Bidadari. Begitu melihat air terjun nya, aku hanya bisa terdiam sejenak karena tidak menyangka akan keindahan nya, tahu tahu Ipin memanggil aku untuk mengikuti langkah dia, dengan sigap mendaki tanjakan di samping air terjun, beda dengan aku yang sedikit bersusah payah untuk mendaki karena sedikit licin. Aku sudah tidak menghiraukan percikan air yang membasahi seluruh badan, sampai akhirnya aku mencapai posisi di mana Ipin berdiri, di sela2 suara air dia menjelaskan kenapa dia mengajak aku berdiri di sana, ternyata…dari tempat tersebut aku bisa melihat warna pelangi yang berasal dari air terjun yang terkena sinar matahari, indah banget….
image

Puas menikmati keindahan Air Terjun Bidadari, aku melanjutkan perjalanan lagi menuju Pulau Kaniungan Besarspeed boat melaju dengan cepat. Kali ini menembus laut lepas, sehingga bisa aku rasakan ombak di lautan meskipun tidak terlalu besar. Kurang lebih 45 menit, aku sudah bisa melihat sebuah pulau yang menjadi tujuan. Pulau ini tidak berpenghuni, sehingga benar2 masih alami, syukurlah air masih belum surut benar, sehingga speedboat bisa merapat sampai bibir pantai. Begitu melihat pemandangan pantai di Pulau Ini, aku ingin segera berenang dan berjemur, seakan akan merupakan pulau pribadi, karena tidak ada orang lain yang aku temui.
image

Tidak terasa matahari sudah tepat di atas kepalaku, berarti tanpa melihat jam tangan pun, sudah tahu jam berapa sekarang? Di samping itu perut sudah keroncongan minta diisi, jadi sebelum aku melanjutkan ke tujuan berikutnya, bekal makanan yang sudah dibawa sejak berangkat tadi, saat nya dibuka dan disantap. Makan dulu yukkkk….
Perut udah kenyang, sekarang waktunya speedboat melanjutkan menembus laut lepas yang berikutnya dengan tujuan, Pulau Kaniungan Kecil, sesuai dengan namanya pulau ini ukuran nya lebih kecil dibanding pulau sebelumnya, dari kejauhan yg nampak adalah kilau butiran pasir yang tertepa sinar matahari mengelilingi pulau.
Ternyata setelah aku sampai di pulau ini, keindahan yang ditawarkan tidak kalah bagusnya jika dibandingkan dengan pulau besar nya…
image

Labuhan Cermin

Standard

Alo temen2 traveler…kali ini aku berkesempatan ke Berau, sebuah perjalanan yang aku tunggu2 karena penasaran untuk melihat tempat wisata yang sedang jadi topik pembicaraan yaitu labuhan cermin.
Banyak cara untuk sampai ke Berau…bisa dari Surabaya maupun Jakarta, tapi yg pasti harus via Balikpapan. Dari Balikpapan, ada beberapa pilihan maskapai penerbangan di antara nya: Garuda Indonesia, Wings Air dan Kalstar.

Kali ini aku memilih keberangkatan dari Surabaya, berangkat pukul 1 siang dengan maskapai penerbangan Lion Air, transit di Balikpapan dan pindah ke Wings Air dengan jadwal 16.45 boarding nya. Beruntung hari ini semuanya tepat waktu tanpa delay, sehingga tepat pukul 18.15 aku sudah mendarat di Bandara Kalimarau, Berau. Bandaranya baru sekitar setahun beroperasi, bersih dan bagus.

Dari bandara aku mampir makan dulu sebelum check in hotel, pilihan untuk dinner adalah ikan bakar yang jadi andalan juga nih. Nama tempat makan nya Harmony.

image

Malam ini aku istirahat di Berau dengan menginap di Hotel Palmy, hotel yang boleh dibilang baru dan fasilitasnya Ok. Harga kamar sekitar 500 ribuan.

Bangun pagi, sarapan di sekitar hotel, karena ingin merasakan menu masakan lokal Berau. Setelah mengisi perut, aku start perjalanan menuju Labuhan Cermin. Perjalanan darat yang ditempuh dengan kondisi jalan yang cukup bagus, meskipun ada beberapa ruas jalan yang masih perlu perbaikan atau bekas longsor.

Menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam, aku sampai di desa Talisayan dan memutuskan untuk berhenti mengisi perut hehe…mulai keroncongan juga. Aku memilih RM di ujung jalan dengan nama RM Adinda…menyediakan menu makanan yg di goreng dan dibakar, yg jadi pilihan aku tetap Ikan.

Setelah puas mengisi perut dan siap buat melanjutkan perjalanan…maka mobil meluncur lagi. Sambil menikmati alunan musik yang diputar, aku menikmati pemandangan di sekitar yg dipenuhi dengan pohon sawit dan kadang benar2 masih hutan. Tak terasa 2 jam perjalanan aku tempuh dan sampailah aku di Biduk Biduk…Jam menunjukkan pukul 5.30 sore, aku langsung menuju hotel tempat aku menginap. Dari bekal informasi teman, aku memutuskan menginap di Hotel Mayangsari.

image

Oiya begithu sampai di hotel, tahu2 hujan turun…yang aku anggap ini hujan berkat meskipun dalam hati was2 karena takutnya besok cuaca tidak mendukung aku buat ke Labuhan Cermin.

Selesai check in dan segera mandi karena hari sudah mulai gelap. Sebelum masuk kamar, penjaga hotel yang bernama Mbak Nur, menawarkan untuk menyediakan makan malam, segera aku iya kan… Di samping sudah lapar dan di luar hujan, aku cari simple nya aja. Selesai mandi aku menuju meja makan, sudah tersedia sup kepala ikan, ikan putih bakar dan sambal, serta nggak ketinggalan nasi yang masih panas… sajian yang sempurna. Sambil menurunkan makanan aku duduk di teras, ternyata pemilik penginapan, Pak Haji Herman yang juga sebagai pengurus kelompok sadar wisata sedang ada di sana, jadinya kita ngobrol. Dari keterangan Pak Haji yang mengeluhkan Biduk2 kurang di promosikan dan kondisi masyarakat yang masih belum sadar wisata. Membuat aku makin tertarik dengan wisata di sini. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11…mata sudah mulai lelah dan badan mengajak bertemu ranjang…dan memang aku harus istirahat karena besok harus bangun rada pagi.
………

Aku terjaga di pagi hari, pertama karena terasa agak panas dan baru sadar kalau listrik di sini hanya ada mulai jam 6 sore sampai jam 6 pagi, kedua karena suara di luar sudah rada ramai. Segera aku membuka jendela kamar dan langsung tersenyum sendiri, karena langit cerah dan matahari sudah nampak. Segera aku mandi dan siap2 buat berangkat ke Labuhan Cermin
Dari hotel, aku naik mobil menuju jembatan yang merupakan dermaga juga, perjalanan hanya sekitar 15 menit untuk sampai dermaga. Dari sini kita naik kapal kecil dengan motor pendorong yang tidak terlalu besar untuk menyusuri sungai dan masuk ke lokasi labuhan cermin

image

Hanya sekitar 15 menit di kapal kita sudah mendapatkan pemandangan yang berbeda banget…aku langsung takjub dan tidak menyangka dengan apa yg selama ini aku baca danau yang air nya mempunyai dua rasa, sekarang sudah ada di depan mata aku.

image

Kapal memasuki area labuhan cermin dan berputar mengelilingi area itu, kecepatan nya mulai diperlambat sehingga aku makin terpesona karena jernihnya air sehingga kita bisa melihat ratusan ikan dan bebatuan di dalam air…benar2 indah.

image

Setelah berkeliling satu putaran, kapal bersandar di tempat yang memang sudah disediakan untuk kita turun dan meletakkan barang, dan bisa santai menikmati dingin nya air dan pemandangan sekitar yang sangat menakjubkan serta bermain kano yang sudah ada di sana. Aku sudah tidak sabar ingin segera berenang dan hanyut dalam kebeningan Labuhan Cermin.

image

Pantai Trikora

Standard

Alooo…ke pantai lagi yukkk…mumpung ini lagi nongkrong gratisan sambil manfaatin wifi nya, jadi keinget minggu lalu aku sempat jalan jalan ke salah satu pantai di Tanjung Pinang. Namanya Pantai Trikora, berada di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang. Jaraknya dari pusat kota Tanjung Pinang sekitar 45 km, atau kalau naik mobil bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam.

Sekilas pantai ini karakternya sama dengan pantai yang ada di Kepulauan Natuna dimana pantainya banyak dihiasi dengan batu batu besar. Pasirnya yang putih menambah keindahan pantai ini. Ombak di pantai Trikora tidak terlalu besar dan pada saat air surut, akan semakin nampak indah.

Di pinggir pantai ada disediakan saung2 kecil di mana kita bisa duduk bersama teman2 atau keluarga, sehingga menambah kenyamanan saat berkunjung ke pantai Trikora. Saat aku ke sini, satu saung disewakan dengan harga 30 ribu. Oiya juga banyak penjual minuman kaleng atau minuman dingin jika kita haus. Saran aku jika berkunjung ke Tanjung Pinang sempatkan untuk main ke pantai ini.

Di samping tujuan kita main di pantai, sepulang dari pantai saat perut mulai terasa lapar, kita juga bisa mampir makan di salah satu tempat makan yang menyajikan menu makanan seafood dengan andalan kerang jenis gong gong dan lala. Kita bisa memilih duduk di saung2 pinggir pantai, jadi sambil menikmati makanan, kita bisa memandang hamparan air laut.

Setelah kenyang, saat pulang balik ke kota tanjung pinang, jika melihat ada kedai yang menggelar makanan yang dibungkus dengan daun pisang, boleh memarkir mobilnya sebentar…mau tahu apa isi bungkusan tersebut, ternyata aku juga baru tahu setelah diberitahu oleh teman yang asli orang tanjung pinang, yaitu tape. Yg pasti layak dicoba karena rasanya mantabsss…