Author Archives: kopertraveler

About kopertraveler

Travelling adalah salah satu hobby...menulis juga suatu keinginan yang mau aku wujudkan....jadi menulis artikel traveling ingin aku gabungkan...

www.kopertraveler.blogspot.com

Standard

Alooo temen temen traveler….

ke depan nya aku akan posting tulisan aku di blogger ya, semua cerita yg ada di sini juga udah aku pindahin ke blogger

website nya: http://www.kopertraveler.blogspot.com

mau follow follow an di twitter boleh juga: @KoperTraveler

atau ngintip2 foto aku di instagram : kopertraveler.blogspot

facebook fotonya juga lengkap: kopertraveler1970

yukkkkk kita share apa saja tentang perjalanan or jalan2

thx ya pren….wpid-20130819_161548.JPG

Advertisements

Matak Airport ( Conoco Phillips )

Standard

Kesempatan kedua aku dapat, untuk bisa berkunjung lagi ke Anambas, tapi kali ini berbeda dengan saat pertama kali ke sini. Perbedaan nya dari sisi transportasi, kunjungan pertama harus naik kapal ferry selama 10 jam dari Tanjung Pinang tapi langsung turun di kota tujuan yaitu Tarempa, sedangkan yang sekarang dengan menggunakan pesawat Nusantara Air, notabene hanya 55 menit di udara. Tapi waktu yang sebenarnya terjadi adalah kurang lebih 4,5 jam dari Tanjung Pinang ke Tarempa.

image

Kenapa bisa memakan waktu selama itu, coba aku beri gambaran saja. Pesawat dari Tanjung Pinang schedule 14.20, start pukul 13.00 aku sudah berangkat menuju bandara, mengikuti aturan yang sudah lazim, kalau kita mau naik pesawat, satu jam sebelum nya sudah harus melakukan proses check in dan menunggu boarding.

image

Kali ini pesawat tanpa delay alias tepat waktu. Nusantara Air membawa aku terbang dengan tujuan Palmatak, dimana aku harus mendarat dulu di Matak Airport, di mana bandara ini milik perusahaan minyak Conoco Phillips.

image

Dari bandara, setelah melalui proses pegambilan bagasi aku harus naik mobil ke pelabuhan dengan membayar sebesar Rp. 50.000 untuk waktu tempuh sekitar 15 menit tanpa macet, termasuk mahal. Tapi kalau jalan kaki juga nggak mungkin.

image

Sampai di pelabuhan, sudah banyak kapal ferry yang menawarkan kepada kita menuju kecamatan Tarempa. Dengan tarif per orang sama dengan tarif mobil tadi, tapi untuk yang ini lebih masuk akal. Karena dari pelabuhan Matak sampai tempat tujuan makan waktu 45 menit dan melewati laut lepas meskipun samping kiri kanan nya masih banyak pulau. Dan tepat pukul 17.30, aku sampai di Kecamatan Tarempa.

image

Oiya untuk tiket pesawat sekali jalan dipatok seharga Rp. 1.200.000,- untuk sekali jalan.

Why Macau?

Standard

Mendengar kata “Macau”, yang sudah pasti terlintas adalah tempat judi, karena dari kecil kalau orang tua atau teman bercerita mau jalan jalan ke sana, selalu bilang sekalian mengadu nasib.

Macau sekarang tetap menjadi salah satu pilihan orang datang untuk “mengadu nasib”, tetapi tidak hanya itu, karena dengan posisi sebagai Pusat Dunia Pariwisata dan Kenyamanan, sudah jelas banyak yang bisa kita lihat jika berkunjung di sana. Karena belum pernah ke sana dan ingin melihat secara langsung, jika ada kesempatan, Maka saya membaca literatur tentang Macau.

Setelah mencari tahu lebih jauh, justru semakin penasaran. Keragaman dari tempat kunjungan wisata di Macau, memberikan keunikan tersendiri, seperti Warisan Budaya Dunia yang terdiri dari 20 monumen kuno dan alun2 perkotaan, salah satu yang paling terkenal dan orang banyak mengambil foto di sana adalah Ruins of St. Pauls. Buat yang suka wisata Museum, layak juga berkunjung ke sini, begithu juga untuk wisata religi merupakan salah satu keunggulan nya. Satu bangunan yang cukup dikenal adalah Macau Tower, masih belum bisa aku bayangkan seandainya berada di ketinggian 338 m, yang sudah pasti aku bakal bisa melihat seluruh kota Macau ya….

Beberapa pusat perbelanjaan dengan bangunan yang spektakuler bisa kita temukan di sini. Macau juga menyajikan wisata kuliner yang menjanjikan, merupakan gabungan khas Portugis dan China, beberapa makanan yang disarankan untuk dicoba adalah Ayam Afrika dan Udang Chilli Macau, dan beberapa teman juga bilang kalau ke sana belum makan Pie atau Tart Telur Ala Portugis itu salah besar.

Semakin lama menulis cerita tentang Macau, justru aku sendiri bisa menemukan jawaban dari judul “Why Macau”, Jawaban pastinya adalah please give me ….Trip To Macau

images

Anambas

Standard

Back nulis lagi…setelah beberapa waktu ini sibuk muter aja…sebener nya perjalanan aku ke Anambas udah beberapa bulan yang lalu, tapi baru sekarang nih dapat inspirasi buat nulis.

Sebagian orang bahkan mungkin nggak tahu pulau ini ada di mana ya hehe…aku juga cuma dengernya setelah ada pekerjaan di kepulauan Riau. Tapi info tentang kepulauan ini sangat minim sekali. Semoga aja  tulisan aku bisa menambah informasi juga.
Oiya kebetulan saat aku berangkat ke Anambas, waktunya boleh dibilang kurang tepat, karena saat itu satu2 nya pesawat yang terbang ke sana habis kontrak dan tidak diperpanjang oleh “siapa” juga nggak jelas, pokok intinya nggak terbang lagi hehe…
Jadi rute perjalanan yang aku tempuh adalah naik pesawat dari Jakarta ke Tanjung Pinang, kemudian lanjut naik kapal ferry MV Seven Star Island dengan biaya Rp. 250.000,- per orang. Jangan kaget dulu ya, rute kapal ferry Tanjung Pinang – Letung – Tarempa ditempuh dalam waktu kurang lebih 9 jam, yang parahnya no signal sepanjang perjalanan. Siap siap bawa apa aja buat mengusir kebosanan. Tapi khabarnya skrg udah ada pesawat carter yang terbang setiap hari.

Kapal ferry berangkat start jam 8 pagi dari Pelabuhan Sri Bintan Pura menuju ke Tarempa, dengan satu kali berhenti di Letung. Selama perjalanan aku usahakan tidur, kalau pun terbangun palingan makan, main game atau sekedar baca buku yang ringan, sesekali kapal ferry terasa terombang ambing karena arus bawah laut yang keras. Sekitar pukul 17.00 kapal ferry merapat di pelabuhan Tarempa, tapi dua jam sebelum nya menurunkan dan mengangkut penumpang. Dari dermaga aku sudah melihat sebagian dari pulau Tarempa, ada yang warnanya sangat mencolok di satu sisinya, dominan warna merah bangunan nya dan itu ternyata Kuil yang nantinya akan aku kunjungi.

20140417_123721

Turun dari kapal ferry, rasanya benar2 lega karena bisa menghirup udara segar kepulauan ini, kota Tarempa yang kecil tapi padat banget. Oiya aku jelasin dulu nih, jadi Kepulauan Anambas terdiri dari 3 kecamatan yaitu : Jemaja, Siantan dan Palmatak. Tarempa adalah salah satu daerah yang paling ramai di Siantan. Lanjut ya…
Hotel yang udah aku pesan hasil rekomendasi dari teman adalah Tarempa Beach, tinggal jalan kaki sekitar 15 menit dari dermaga. Sebenarnya banyak hotel lain yang jaraknya juga berdekatan seperti Anambas Inn, Tropical Inn dan masih ada tempat penginapan kecil. Keunggulan Tarempa Beach Inn adalah jika kita mendapat kamar yg posisinya menghadap ke laut, sehingga saat menjelang malam bisa melihat indah nya sunset. Dan satu lagi, hotel ini bersebelahan dengan tempat nongkrong yang paling hits di Tarempa yaitu Cafe Laluna

Tarempa

Esok harinya, aku bangun dan menikmati sarapan dekat pasar yang ada di tarempa, warung kopi sederhana yang menyediakan aneka minuman dan makanan kecil, sambil mencari informasi tempat wisata yang bisa aku kunjungi dengan mudah karena waktu yg terbatas. Aku menyewa jasa ojek yang mangkal dekat pasar, dan kebetulan orang nya berasal dari pulau Jawa, sehingga komunikasinya lebih enak dalam tawar menawar harga.
Kunjungan pertama adalah ambil foto di Batu Timpa, lokasinya nggak jauh dari hotel tempat aku menginap dan ada di pinggir jalan, tapi bentuk nya cukup unik sesuai dengan namanya, karena beberapa batu besar saling tumpuk, seperti ada yang mengatur.

20140417_114618

Setelah mengambil beberapa foto, perjalanan aku lanjutkan. Belum juga 10 menit tukang ojek sudah berhenti lagi, ternyata ada spot tempat yang bisa dijadikan obyek foto, yaitu monumen yang dibangun untuk ucapan terimakasih secara simbolis dr masyarakat Tarempa kepada Angkatan Laut RI yang menjaga keamanan di sana. Monumen ini berada di pinggir laut dan aku nggak mau ketinggalan untuk mengabadikan nya.

20140417_124558

Ayo, lanjut lagi ke tujuan yang lain yaitu ke sebuah dermaga yang digunakan oleh perahu angkutan gratis untuk anak sekolah dan masyarakat di pulau lain sekitar Tarempa, perahu di sini menjadi transportasi utama. Nama dermaga nya Dermaga Tanjung Momong, dari pinggiran dermaga kita bisa mengambil foto laut lepas yang berwarna biru dan jernih.

20140417_115528

Dari dermaga, perjalanan aku lanjutkan lagi ke sebuah pantai yang cukup terkenal di Tarempa, hamparan pasir putih dengan beberapa pohon kelapa dan tentunya air laut yang biru dan jernih jadi paduan yang sempurna. Menurut pak Yanto si tukang ojek, setiap sore di hari Sabtu dan Minggu, masyarakat sekitar banyak yang bermain di sini. Karena pas aku ke sini hari biasa bukan week end, jadinya pantai nya sepi dan aku bisa puas mengambil foto dan bermain air. Oiya nama pantai nya

20140417_120233

Belum bosen bacanya khan hehe…masih inget tulisan di atas yg aku bilang bangunan merah mencolok yang terlihat dr kejauhan saat perahu akan merapat di dermaga kota Tarempa, sekarang aku sudah bisa melihat dari jarak dekat, ternyata ini sebuah kuil yang bernama Vihara Gunung Dewa Siantan. Kuil ini merupakan salah satu wisata religi yang dimiliki oleh Tarempa. Lokasi nya rada tinggi di tebing dan dari lokasi ini kita bisa memandang lautan lepas. Layaknya sebuah kuil, maka di sini juga bisa dilihat patung patung dewa yang dipercaya umat budha di beberapa sudut nya.

20140417_113202

Tak terasa udah pukul 3 sore, Pak Yanto mengingatkan aku untuk segera menyelesaikan aktifitas aku di kuil, karena abis ini mau melanjutkan perjalanan ke Air Terjun, jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 45 menit dr sini, tapi kondisi jalanan menuju ke lokasi yang kurang bersahabat kalau hujan dan gelap. Benar apa yang disampaikan, saat aku di boncengan motor dan melihat jalan yang sebagian besar belum beraspal dan hanya merupakan tanah merah yang padat, sempat ciut juga nih nyali, tapi rasa penasaran untuk melihat tempat wisata nya membuat aku meneruskan perjalanan, dan melihat gaya menyetir pak yanto yang sudah biasa melewati rute ini semakin mengurangi keraguan. Bener aja, sesampainya di lokasi Air Terjun Temburun, yang berada di Desa Batu Belah, Kecamatan Siantan Timur aku berdecak kagum, karena dari posisi tengah dari ketinggian air terjun yang airnya mengalir pada bebatuan yang terjal, aku bisa melihat keindahan kepulauan anambas

20140418_105751

20140418_110035

Oh indah nya kepulauan Anambas yang hanya aku lihat sebagian kecilnya, saat hari menjelang gelap aku harus kembali. Yang pasti kenangan selama di Tarempa bisa aku bagi buat teman teman semua…

Ekspedisi Sumba

Standard

20140720-014435-6275454.jpg

Bergabung dengan twitter baru aku lakukan kira kira sebulan yang lalu dikarenakan aku ikut serta dalam sebuah kompetisi yang berhadiah jalan jalan. Memang aku tidak menang sama sekali, tapi dari situ aku mulai merasa nyaman dengan menggunakan twitter di kala senggang. Sampai sekitar minggu lalu, tanpa sengaja melihat brosur seperti gambar di atas dan yang aku bayangkan adalah promo tour ke Sumba, ada diskon biaya perjalanan nya atau apapun itu. Dan ketertarikan aku akan Sumba karena pada saat tugas kantor ke Kupang, ada brosur tentang tempat wisata di sana.

Sampailah hari ini, 19 Juli 2014. Dimana acara yang berlangsung pukul 15.30 di Blitzmegaplex, Grand Indonesia. Sebelumnya aku sudah melakukan registrasi melalui handphone. Berangkat pukul 14.45 dari FX Mal, yang kalau nggak macet cuma sekitar 15 menit sudah sampai, ternyata di luar dugaan karena jalanan tidak bersahabat, alhasil aku baru sampai tempat acara 16.30. Terlambat satu jam dari jadwal dan teman2 aku sudah sampai duluan. Sebelum masuk ke gedung audi 6, aku sempatkan foto di booth pameran.

Selesai narsis, aku dan teman teman seger masuk ke dalam, dan aku mendapatkan duduk baris ketiga dari depan karena bagian belakang sudah penuh, dan sedikit menggerutu aku bilang : dapat duduk depan begini bakalan kepala capek kalau harus liat pemutaran video, tapi ternyata tinggal penjelasan dan sesi sharing session. Dari sini aku baru sadar bahwa datang ke acara ini bukan untuk melihat paket wisata atau ada promo diskon tour untuk ke Sumba, tapi acara ini adalah ajang kompetisi buat teman teman yang suka travelling dan mau melakukan “sesuatu” untuk Sumba Iconic Island, 100 %Renewable Energi. Tapi hal ini justru membuat aku semakin tertarik dan berharap bisa terpilih menjadi salah satu kandidat nya, tapi awalnya rada ciut juga karena aku harus meng upload sebuah foto ke website dari penyelenggara (Hivos) dan dari seluruh peserta akan dipilih 10 kandidat yang memenuhi kriteria, diwawancara i di jakarta dan akan dicari 4 pemenang buat berangkat ke Sumba.

Ada sesi yang menarik dan menjadikan inspirasi buat aku adalah saat presentasi dari salah satu pemenang ekspedisi tahun lalu yaitu Sheila, gadis muda tapi penuh percaya diri menceritakan pengalaman tahun lalu saat di Sumba. Harapan ku untuk ikut dan memenangkan kompetisi nya semakin besar.

Mendekati jam buka puasa, acara akan seger ditutup dengan games berhadiah dengan cara menjawab pertanyaan dan yang mengejutkan dari semua yang hadir diberi kejutan dengan adanya satu Golden Ticket buat menuju 10 besar, MC memberi aba aba kepada semua peserta untuk berdiri dan setelah itu mencari barang yang ada di bawah kursi, ternyata ada miniatur pesawat lucu di bawah kursi aku, dan ternyata itu adalah symbol dari peserta yang berhak mendapat Golden Ticket. Serasa nggak percaya aku mendapatkan kesempatan ini, tapi yang pasti aku happy banget.

So…mohon bantuan doanya, semoga dengan mendapat kemudahan di golden ticket ini, aku bisa lolos menjadi 4 besar

20140720-021546-8146487.jpg

Thx God buat kesempatan nya…

Air Terjun Madakaripura

Standard

Salam dari kota Surabaya hehe…kenapa kok aku bilang begithu, karena perjalanan ke air terjun ini dimulai dari Surabaya.

Okay aku cerita sekilas tentang Madakaripura ya all travellers, air terjun ini terletak di Kecamatan Lumbang, Probolinggo. Mungkin belum se popular Gunung Bromo, padahal merupakan tempat wisata yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Semeru. Konon ceritanya air terjun ini merupakan area meditasi paling akhir Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa nya.

Sekarang saat nya aku memulai perjalanan ke sini ya, berangkat dari Surabaya dengan mobil sewaan, menuju Tongas. Sampai pertigaan Tongas sudah ada petunjuk ke arah Air Terjun Madakaripura. Dari pertigaan tersebut, kurang lebih 30 menit kita melewati jalan sedikit berkelok kelok.
Sampailah kita di depan pintu masuk, yang dari kejauhan sudah nampak Patung Besar Patih Gajah Mada dalam posisi duduk sedang melakukan meditasi.
image

Untuk mencapai air terjun yang utama, kita harus berjalan masuk ke dalam sekitar 20 menit, tapi meskipun waktunya tidak terlalu lama harus mempersiapkan diri dengan menggunakan sandal yang tidak licin dan siap untuk basah kuyub, meskipun ada penyewaan jas hujan tapi malah tidak excited kalau tidak terkena air langsung. Hanya berjalan sedikit masuk ke dalam, di depan mata sudah nampak pepohonan yang rimbun dan hijau.
image

Jalan yang dilewati adalah sepanjang aliran sungai yang ada di sana, sehingga beberapa kali kita harus menyeberang sungai kecil bebatuan, terkadang arus nya cukup kuat. Oiya hampir lupa, untuk masuk ke dalam kita bisa didampingi pemandu lokal yang siap membantu saat kita menyeberangi sungai, tapi jangan lupa untuk melakukan deal harga di depan, jangan sampai kena pungli setelah kembalinya.
image

Setelah berjalan sekitar 10 menit sudah terdengar suara air dan percikan nya seperti hujan gerimis, dan samar samar beberapa air terjun sudah nampak, sehingga semakin semangat untuk segera bisa sampai di pusat nya.
image

Nah, nggak berapa lama pemandu mengingatkan aku untuk berhati hati karena akan melewati percikan air dari atas yang mengucur cukup deras dan akan membuat badan basah. Hal itu tidak menciutkan niat, malah ini kesempatan untuk bermain air dan merasakan segarnya air murni dari gunung.
image

Badan basah kuyub terbayar dengan apa yang aku lihat ketika sudah melewati guyuran air deras, 3 tetesan air yang mengucur deras dari sisi tebing bisa masing masing membentuk bagian nya dan pastinya membuat aku berdecak kagum.
image

Sekarang bagian jalan yang paling sulit untuk mencapai Air Terjun yang terbesar, karena kita benar benar harus menaiki dinding tebing yang rada tinggi dan kadang batu pijakan nya licin. Nggak usah takut, sesulit apapun tetap masih bisa dilewati kok, karena kalau tidak berani naik justru akan rugi sendiri karena akan kehilangan moment untuk melihat keindahan alam yang sangat indah di sini
image

Finally selesai juga perjalanan kita di Air Terjun Madakaripura, sebuah kenangan yang berbekas menghilangkan rasa capek yang sudah kita rasakan sebelum nya…

Ora Beach, Maluku

Standard

Excited…itu yang bisa aku rasakan, akhirnya hari keberangkatan ke tempat wisata ini datang juga. Meskipun badan masih terasa sedikit capek karena habis perjalanan dari Batam pukul 15.00 dan jam 24.00 aku sudah ada lagi di bandara Soeta.
image
Dengan menggunakan pesawat Lion aku akan menuju kota Ambon terlebih dahulu. Tepat pukul 01.30 dini hari, pesawat berangkat. Perjalanan sekitar 3,5 jam aku manfaatkan buat istirahat. Beda waktu antara Jakarta dan Ambon adalah 2 jam, sehingga tepat pukul 07.00 aku mendarat di Bandara Pattimura.
image

Setelah mengambil bagasi, dari bandara perjalanan dilanjutkan ke Pelabuhan Tulehu, kurang lebih satu jam. Selama perjalanan ke pelabuhan, kiri kanan banyak pegunungan yang kita lihat. Pukul 08.50 aku sampai di Tulehu, segera bergegas masuk ke dalam ferry Cantika Torpedo yang akan membawa aku menuju ke Masohi. Karena waktunya mepet, jadi sarapan dilakukan di ferry, menu nasi kuning pilihan nya.
image

Perjalanan ke Masohi kurang lebih selama 2 jam, kapal ferry bergerak sedikit lambat menuju ke laut lepas, ombak di bulan Juni mulai ada sehingga ferry nya rada goyang. Lanjutan perjalanan ini aku gunakan untuk menambah waktu tidur ku.
image

Sekitar pukul 11.25 kapal ferry merapat di pelabuhan Amahai, Masohi. Di sini udah siap mobil yang menjemput aku dan rombongan menuju ke Desa Saleman. Tapi berhubung sudah jam makan siang maka aku diajak untuk mampir makan di RM Seafood Julia, sajian ikan dengan berbagai olahan seperti bakar, kuah atau goreng sudah tersaji di meja, ditambah menu seafood lain nya seperti udang dan cumi.
image
image
Selesai makan siang, aku mampir ke mini market di seberang rumah makan untuk membeli beberapa keperluan dan sedikit menambah snack, karena di Eco Resort tidak ada toko sama sekali.
Beres semuanya, perjalanan darat segera aku jalani, menurut keterangan dari guide setempat, waktu yg diperlukan sekitar2,5 jam. Sepanjang perjalanan kita kembali disuguhi pemandangan perbukitan, sungai besar dan bahkan lembah yang indah. Jalanan yang dilewati cukup bagus meskipun sesekali kita bertemu dengan jalan bekas longsor yang sedang diperbaiki, hanya pada saat akan mencapai negeri Saleman, jalanan tidak beraspal dan karena bekas hujan, sehingga rada was was juga, untung nya sopir yg membawa aku sudah berpengalaman.
Sebelum sampai tujuan, mobil berhenti di sebuah tempat di namai Pintu Angin, di sini aku diberi kesempatan untuk mengambil foto dan sekaligus berfoto dengan background Ora Beach dr ketinggian.
image

Puas mengambil beberapa foto, ternyata hujan datang meskipun matahari sebenarnya masih ada, bergegas aku masuk mobil dan melanjutkan lagi perjalanan.
Tak berapa lama, mobil memasuki area negeri saleman dan langsung menuju dermaga kecil yang akan menghubungkan negeri saleman dengan Ora Eco Resort.
image

Sambil menunggu hujan reda, aku dan rombongan berteduh di pondok dekat dermaga, gerimis tidak menyurutkan kegembiraan kami, apalagi setelah mendapat keterangan dari Mas Adi, guide selama perjalanan yg mengatakan, kalau biasanya sehabis gerimis akan muncul pelangi, dan omongan tersebut benar, karena saat gerimis berhenti, aku bisa melihat pelangi. Thx God buat kesempatan melihat keindahan Ciptaan Mu.
Okay, lets go. Aku naik ke longboat untuk menuju Resort tempat menginap selama 2 malam. Sebuah bangunan di atas air yang sangat unik dan berkonsep alam, akan aku tinggali selama di sini.
Begithu sampai, aku hanya bisa berdecak kagum, karena melihat aslinya resort ini dan bening nya air laut di bawah penginapan nya. Segera aku mendengarkan briefing mengenai acara selama di sini dan pembagian kamar.
image

Sampai di kamar aku meletakkan semua barang bawaan dan melihat semua sudut kamar, konsep bangunan yang alami tp sudah dipadukan dengan sesuatu yang modern, dan setiap kamar mempunyai jendela yang besar di mana menghadap ke laut lepas, konsep kamar mandi yang sedikit terbuka. Bergegas aku berganti pakaian, persiapan untuk berenang dan bermain air, sekaligus mencoba kamera air yang baru kubeli menjelang ke sini. Keluar dari kamar sebelum menuju tempat turun untuk ber snorkling, aku melewati tempat makan dan terlihat teman2 satu rombongan sedang berkumpul, ternyata mereka sedang menikmati snack yang sudah disiapkan, aku tak ketinggalan mencicipi pisang goreng, kue donat dan menikmati secangkir teh, tak berhenti ocehan mereka mengenai perjalanan panjang yang sudah dilewati dan akhirnya sampai di sini.
Banyak yang dilakukan di pantai Ora, seperti yang aku lakukan sore ini, sekedar bermain air di bibir pantai, snorkling sambil mengambil beberapa gambar dari coral dan ikan, naik kano di sekeliling eco resort bahkan dengan hanya duduk santai kita sudah bisa menikmati kebeningan air laut yang menyuguhkan keindahan dalam lautnya.
image
image
image

Tak terasa hari mulai gelap, sayang sore ini rada mendung sehingga cahaya sunset tidak sempurna, aku beranjak ke kamar untuk bersiap menyantap makan malam yang sudah disediakan oleh pihak resort.
Selesai makan, briefing sebentar dan mata serta badan mengisyaratkan untuk istirahat, mengingat besok masih banyak aktifitas yang akan dilakukan.

Bangun pagi, membuka jendela kamar, aku masih bisa melihat bulan yang akan menghilang karena berganti pagi. Pemadangan coral di kebeningan Ora semakin indah di pagi hari. Sambil menunggu waktu sarapan aku mengambil beberapa foto di area belakang resort. Setelah sarapan, aku dan rombongan segera menuju ke dermaga, speedboat sudah siap mengantar ke Pulau Tujuh. Dari namanya sudah bisa ditebak kalau pulau yg ada berjumlah tujuh, tapi itu dulu. Sekarang pulau nya sisa enam karena salah satu pulau nya tenggelam.
image

Perjalanan sekitar 45 menit melalui laut lepas, speedboat bergerak melambat, ternyata kegiatan di awal adalah snorkling. Terumbu karang yang kita lihat lebih bagus lagi dan guide mengingatkan kepada semuanya untuk tidak menginjak terumbu karang. Snorkling selama satu jam tidak terasa sama sekali, tetapi perjalanan harus dilanjutkan.
image

Tujuan selanjutnya adalah sebuah pantai di salah satu Pulau Tujuh, pantai yang berada di pulau tidak berpenghuni mempunyai pasir putih yang halus dan gradasi warna yang indah, jika ombak datang nampak deburan nya sedikit berwarna merah muda, bermain air sambil mengambil beberapa foto dilakukan di sini sampai makan siang tiba. Bekal yang sudah dibawa sejak berangkat dibuka di sini. Menu ikan goreng, sayur kacang dan sambal sangat menggugah selera sehabis melakukan aktifitas yang cukup menguras tenaga.
image

Selesai menghabiskan makan siang perjalanan kita lanjutkan kembali. Menuju sebuah tebing yang tinggi dan bebatuan kecil di sisinya, tempat ini dinamakan Hatukanita, awalnya aku juga kurang tahu apa yang akan kita lakukan lagi di sini, oh ternyata sesi pemotretan dengan menaiki kano serta latar belakang tebing, secara bergantian seluruh peserta dalam rombongan diambil beberapa gambarnya, memang sebuah perpaduan yang indah dari hasil foto yang didapat, sementara menunggu giliran, aku mengambil beberapa foto tebing dengan bebatuan yang kokoh.
image

Sesi foto berakhir, speedboat bergerak kembali tetapi tidak terlalu cepat dan hanya sedikit berbelok di belakang tebing, dari kejauhan nampak semacam joglo di atas air, tujuan kita ke sana. Speedboat merapat dan semua turun ke dalam air yang tidak terlalu dalam, menuju sebuah goa yang ada di tebing, Goa Kelelawar. Lobang goa adalah kikisan ombak tanpa ada campur tangan manusia, sungguh menakjubkan, aku masuk sampai ke dalam ujung goa, dan melihat ke atas. Nampak banyak kelelawar beterbangan di dinding batu tebing dan samar terdengar suara nya yang seperti anak kecil sedang menjerit.
image

Kegiatan hari ini masih dilanjutkan dengan melakukan trecking di suatu pulau yang diberi nama Hatu Holo, awalnya ketika melihat ketinggian yang akan ditempuh sebagian peserta rombongan berpikir pikir untuk ikut, tapi akhirnya memutuskan untuk mencoba mendaki semuanya, cukup melelahkan juga sampai semua mandi keringat, tetapi dengan semangat karena penasaran akan apa yang akan kita lihat, akhirnya sampai juga di atas puncak bukit. Wow…sungguh indah itu yang terdengar dari salah satu teman yang sudah sampai duluan. Dari ketinggian ini, terlihat sebuah pulau kecil di tengah laut lepas dan deburan ombak di sekeliling nya memberikan suguhan pemandangan yang membuat kita lupa akan rute yang telah kita jalani tadi.
image

Saat nya turun dari ketinggian, tidak terlalu sulit dibanding saat naik tadi. Semua mendapat angin segar karena diberi tahu bahwa sesampainya di bawah sudah disiapkan kelapa muda yang dipetik langsung dari pohon yang ada di pulau tersebut, segar sekali air buah kelapa asli. Menikmatinya sambil bercanda dengan anak anak kecil yang tinggal di pulau tersebut. Berikutnya satu tujuan lagi sebagai penutup kita di ajak ke mata air belanda, di mana mata air yang merupakan air tawar berasal dari gunung dan bertemu dengan air laut di bibir pantai. Begithu sampai, semuanya berlari ke arah air tawar karena ingin membasuh seluruh badan yang sudah seharian terkena air laut dan keringat. Mata air ini dingin sekali airnya dan sangat nyaman, di samping berendam, kita juga bermain air melepas semua kelelahan atas perjalanan sepanjang hari ini
image

Tak terasa hari sudah mulai gelap, saat nya kembali ke Resort. Yang terbayang adalah keindahan yang telah kita dapat dan perut sudah mulai keroncongan karena juga sudah hampir waktunya makan malam. Selepas makan malam, segera istirahat, mengingat besok pagi kita sudah harus balik pulang dengan membawa kenangan yang indah tentang sebuah resort yang berada di teluk dengan kebeningan air yang tiada tara. I love Ora Beach