Monthly Archives: September 2014

Matak Airport ( Conoco Phillips )

Standard

Kesempatan kedua aku dapat, untuk bisa berkunjung lagi ke Anambas, tapi kali ini berbeda dengan saat pertama kali ke sini. Perbedaan nya dari sisi transportasi, kunjungan pertama harus naik kapal ferry selama 10 jam dari Tanjung Pinang tapi langsung turun di kota tujuan yaitu Tarempa, sedangkan yang sekarang dengan menggunakan pesawat Nusantara Air, notabene hanya 55 menit di udara. Tapi waktu yang sebenarnya terjadi adalah kurang lebih 4,5 jam dari Tanjung Pinang ke Tarempa.

image

Kenapa bisa memakan waktu selama itu, coba aku beri gambaran saja. Pesawat dari Tanjung Pinang schedule 14.20, start pukul 13.00 aku sudah berangkat menuju bandara, mengikuti aturan yang sudah lazim, kalau kita mau naik pesawat, satu jam sebelum nya sudah harus melakukan proses check in dan menunggu boarding.

image

Kali ini pesawat tanpa delay alias tepat waktu. Nusantara Air membawa aku terbang dengan tujuan Palmatak, dimana aku harus mendarat dulu di Matak Airport, di mana bandara ini milik perusahaan minyak Conoco Phillips.

image

Dari bandara, setelah melalui proses pegambilan bagasi aku harus naik mobil ke pelabuhan dengan membayar sebesar Rp. 50.000 untuk waktu tempuh sekitar 15 menit tanpa macet, termasuk mahal. Tapi kalau jalan kaki juga nggak mungkin.

image

Sampai di pelabuhan, sudah banyak kapal ferry yang menawarkan kepada kita menuju kecamatan Tarempa. Dengan tarif per orang sama dengan tarif mobil tadi, tapi untuk yang ini lebih masuk akal. Karena dari pelabuhan Matak sampai tempat tujuan makan waktu 45 menit dan melewati laut lepas meskipun samping kiri kanan nya masih banyak pulau. Dan tepat pukul 17.30, aku sampai di Kecamatan Tarempa.

image

Oiya untuk tiket pesawat sekali jalan dipatok seharga Rp. 1.200.000,- untuk sekali jalan.

Advertisements

Why Macau?

Standard

Mendengar kata “Macau”, yang sudah pasti terlintas adalah tempat judi, karena dari kecil kalau orang tua atau teman bercerita mau jalan jalan ke sana, selalu bilang sekalian mengadu nasib.

Macau sekarang tetap menjadi salah satu pilihan orang datang untuk “mengadu nasib”, tetapi tidak hanya itu, karena dengan posisi sebagai Pusat Dunia Pariwisata dan Kenyamanan, sudah jelas banyak yang bisa kita lihat jika berkunjung di sana. Karena belum pernah ke sana dan ingin melihat secara langsung, jika ada kesempatan, Maka saya membaca literatur tentang Macau.

Setelah mencari tahu lebih jauh, justru semakin penasaran. Keragaman dari tempat kunjungan wisata di Macau, memberikan keunikan tersendiri, seperti Warisan Budaya Dunia yang terdiri dari 20 monumen kuno dan alun2 perkotaan, salah satu yang paling terkenal dan orang banyak mengambil foto di sana adalah Ruins of St. Pauls. Buat yang suka wisata Museum, layak juga berkunjung ke sini, begithu juga untuk wisata religi merupakan salah satu keunggulan nya. Satu bangunan yang cukup dikenal adalah Macau Tower, masih belum bisa aku bayangkan seandainya berada di ketinggian 338 m, yang sudah pasti aku bakal bisa melihat seluruh kota Macau ya….

Beberapa pusat perbelanjaan dengan bangunan yang spektakuler bisa kita temukan di sini. Macau juga menyajikan wisata kuliner yang menjanjikan, merupakan gabungan khas Portugis dan China, beberapa makanan yang disarankan untuk dicoba adalah Ayam Afrika dan Udang Chilli Macau, dan beberapa teman juga bilang kalau ke sana belum makan Pie atau Tart Telur Ala Portugis itu salah besar.

Semakin lama menulis cerita tentang Macau, justru aku sendiri bisa menemukan jawaban dari judul “Why Macau”, Jawaban pastinya adalah please give me ….Trip To Macau

images

Anambas

Standard

Back nulis lagi…setelah beberapa waktu ini sibuk muter aja…sebener nya perjalanan aku ke Anambas udah beberapa bulan yang lalu, tapi baru sekarang nih dapat inspirasi buat nulis.

Sebagian orang bahkan mungkin nggak tahu pulau ini ada di mana ya hehe…aku juga cuma dengernya setelah ada pekerjaan di kepulauan Riau. Tapi info tentang kepulauan ini sangat minim sekali. Semoga aja  tulisan aku bisa menambah informasi juga.
Oiya kebetulan saat aku berangkat ke Anambas, waktunya boleh dibilang kurang tepat, karena saat itu satu2 nya pesawat yang terbang ke sana habis kontrak dan tidak diperpanjang oleh “siapa” juga nggak jelas, pokok intinya nggak terbang lagi hehe…
Jadi rute perjalanan yang aku tempuh adalah naik pesawat dari Jakarta ke Tanjung Pinang, kemudian lanjut naik kapal ferry MV Seven Star Island dengan biaya Rp. 250.000,- per orang. Jangan kaget dulu ya, rute kapal ferry Tanjung Pinang – Letung – Tarempa ditempuh dalam waktu kurang lebih 9 jam, yang parahnya no signal sepanjang perjalanan. Siap siap bawa apa aja buat mengusir kebosanan. Tapi khabarnya skrg udah ada pesawat carter yang terbang setiap hari.

Kapal ferry berangkat start jam 8 pagi dari Pelabuhan Sri Bintan Pura menuju ke Tarempa, dengan satu kali berhenti di Letung. Selama perjalanan aku usahakan tidur, kalau pun terbangun palingan makan, main game atau sekedar baca buku yang ringan, sesekali kapal ferry terasa terombang ambing karena arus bawah laut yang keras. Sekitar pukul 17.00 kapal ferry merapat di pelabuhan Tarempa, tapi dua jam sebelum nya menurunkan dan mengangkut penumpang. Dari dermaga aku sudah melihat sebagian dari pulau Tarempa, ada yang warnanya sangat mencolok di satu sisinya, dominan warna merah bangunan nya dan itu ternyata Kuil yang nantinya akan aku kunjungi.

20140417_123721

Turun dari kapal ferry, rasanya benar2 lega karena bisa menghirup udara segar kepulauan ini, kota Tarempa yang kecil tapi padat banget. Oiya aku jelasin dulu nih, jadi Kepulauan Anambas terdiri dari 3 kecamatan yaitu : Jemaja, Siantan dan Palmatak. Tarempa adalah salah satu daerah yang paling ramai di Siantan. Lanjut ya…
Hotel yang udah aku pesan hasil rekomendasi dari teman adalah Tarempa Beach, tinggal jalan kaki sekitar 15 menit dari dermaga. Sebenarnya banyak hotel lain yang jaraknya juga berdekatan seperti Anambas Inn, Tropical Inn dan masih ada tempat penginapan kecil. Keunggulan Tarempa Beach Inn adalah jika kita mendapat kamar yg posisinya menghadap ke laut, sehingga saat menjelang malam bisa melihat indah nya sunset. Dan satu lagi, hotel ini bersebelahan dengan tempat nongkrong yang paling hits di Tarempa yaitu Cafe Laluna

Tarempa

Esok harinya, aku bangun dan menikmati sarapan dekat pasar yang ada di tarempa, warung kopi sederhana yang menyediakan aneka minuman dan makanan kecil, sambil mencari informasi tempat wisata yang bisa aku kunjungi dengan mudah karena waktu yg terbatas. Aku menyewa jasa ojek yang mangkal dekat pasar, dan kebetulan orang nya berasal dari pulau Jawa, sehingga komunikasinya lebih enak dalam tawar menawar harga.
Kunjungan pertama adalah ambil foto di Batu Timpa, lokasinya nggak jauh dari hotel tempat aku menginap dan ada di pinggir jalan, tapi bentuk nya cukup unik sesuai dengan namanya, karena beberapa batu besar saling tumpuk, seperti ada yang mengatur.

20140417_114618

Setelah mengambil beberapa foto, perjalanan aku lanjutkan. Belum juga 10 menit tukang ojek sudah berhenti lagi, ternyata ada spot tempat yang bisa dijadikan obyek foto, yaitu monumen yang dibangun untuk ucapan terimakasih secara simbolis dr masyarakat Tarempa kepada Angkatan Laut RI yang menjaga keamanan di sana. Monumen ini berada di pinggir laut dan aku nggak mau ketinggalan untuk mengabadikan nya.

20140417_124558

Ayo, lanjut lagi ke tujuan yang lain yaitu ke sebuah dermaga yang digunakan oleh perahu angkutan gratis untuk anak sekolah dan masyarakat di pulau lain sekitar Tarempa, perahu di sini menjadi transportasi utama. Nama dermaga nya Dermaga Tanjung Momong, dari pinggiran dermaga kita bisa mengambil foto laut lepas yang berwarna biru dan jernih.

20140417_115528

Dari dermaga, perjalanan aku lanjutkan lagi ke sebuah pantai yang cukup terkenal di Tarempa, hamparan pasir putih dengan beberapa pohon kelapa dan tentunya air laut yang biru dan jernih jadi paduan yang sempurna. Menurut pak Yanto si tukang ojek, setiap sore di hari Sabtu dan Minggu, masyarakat sekitar banyak yang bermain di sini. Karena pas aku ke sini hari biasa bukan week end, jadinya pantai nya sepi dan aku bisa puas mengambil foto dan bermain air. Oiya nama pantai nya

20140417_120233

Belum bosen bacanya khan hehe…masih inget tulisan di atas yg aku bilang bangunan merah mencolok yang terlihat dr kejauhan saat perahu akan merapat di dermaga kota Tarempa, sekarang aku sudah bisa melihat dari jarak dekat, ternyata ini sebuah kuil yang bernama Vihara Gunung Dewa Siantan. Kuil ini merupakan salah satu wisata religi yang dimiliki oleh Tarempa. Lokasi nya rada tinggi di tebing dan dari lokasi ini kita bisa memandang lautan lepas. Layaknya sebuah kuil, maka di sini juga bisa dilihat patung patung dewa yang dipercaya umat budha di beberapa sudut nya.

20140417_113202

Tak terasa udah pukul 3 sore, Pak Yanto mengingatkan aku untuk segera menyelesaikan aktifitas aku di kuil, karena abis ini mau melanjutkan perjalanan ke Air Terjun, jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 45 menit dr sini, tapi kondisi jalanan menuju ke lokasi yang kurang bersahabat kalau hujan dan gelap. Benar apa yang disampaikan, saat aku di boncengan motor dan melihat jalan yang sebagian besar belum beraspal dan hanya merupakan tanah merah yang padat, sempat ciut juga nih nyali, tapi rasa penasaran untuk melihat tempat wisata nya membuat aku meneruskan perjalanan, dan melihat gaya menyetir pak yanto yang sudah biasa melewati rute ini semakin mengurangi keraguan. Bener aja, sesampainya di lokasi Air Terjun Temburun, yang berada di Desa Batu Belah, Kecamatan Siantan Timur aku berdecak kagum, karena dari posisi tengah dari ketinggian air terjun yang airnya mengalir pada bebatuan yang terjal, aku bisa melihat keindahan kepulauan anambas

20140418_105751

20140418_110035

Oh indah nya kepulauan Anambas yang hanya aku lihat sebagian kecilnya, saat hari menjelang gelap aku harus kembali. Yang pasti kenangan selama di Tarempa bisa aku bagi buat teman teman semua…